“You know how much I love you, don’t you?” Angga berkata sambil mengepulkan asap rokoknya.
‘Then why did you do that to me???” Angga berteriak keras.
“Why..why..why???” Berkali kali kalimat itu ia teriakkan kepada seseorang yang terikat di kursi.
Beberapa lama kemudian pintu kamar hotel yang tak seberapa besar itu diketuk orang.
“Sebentar!’ Angga menjawab ketukan dengan segan. Lalu mematikan rokoknya.
Seorang pria bersafari hitam berdiri didepan pintu saat Angga membuka pintu kamarnya sedikit. Sekutiti hotel.
“Maaf pak, tamu-tamu yang bersebelahan dengan bapak mendengar teriakan dari kamar ini, ada masalah pak?” Tanya pria itu sambil matanya berusaha melihat ke dalam kamar. Bau asap rokok yang kuat keluar dari dalam kamar.
“Oh maaf, saya sedang latihan untuk audisi pak. Saya tidak mengira kalau suara saya ternyata terdengar oleh tamu di kamar yang lain.” Jawab Angga dengan sopan sambil tersenyum.
“Akan saya coba untuk tidak terlalu berisik. Maaf!” Katanya lagi.
“Baik pak, tapi kalau masih ada keluhan dari tamu yang lain terpaksa Bapak akan kami usir.” Tegas si sekutiti lalu pergi.
“Monyet!!” Angga menutup pintu sambil menyumpah dan mengambil tag Do Not Disturb lalu menggantungkannya di depan pintu kamarnya.
Ia menghela nafas.
“Back to us.” Angga berkata lagi.
“Kamu pikir saya bodoh? You think I am dumb?” Ucapnya lagi “You think I don’t know that you’ve been seeing another guy?”
“How could you do that to me?” Angga hampir berteriak tapi ditahannya.
“Two years we’ve been together. Isn’t that something to you?” Ucapnya lagi dengan emosi yang di tahan.
Kesunyian menjawabnya.
“All that I’ve done to you is nothing, isn’t it? I’m just your toy that you can throw away when you get bored, am I?” Angga duduk di karpet.
“You took me for granted!!!” Ia berteriak ke arah kursi di susul kata-kata kotor dalam bahasa Inggris
“How could you? I love you soooo much….!” Suaranya berubah lirih dan berlanjut menjadi isakan lalu tangisan yang berlarut-larut.
“I don’t wanna lose you..I love you..!” Kata-kata itu terus ia ucapkan sambil ia menangis.
Tak lama tangisannya reda. Matanya kosong menerawang langit dari jendela kamar. Selama beberapa saat ia terus begitu lalu menoleh ke arah kursi.
“I’ll let you go baby. I’ll let you go for good” Ucapnya beberapa saat kemudian.
“You can go home to your family. Sorry to keep you here for two days. I’m sure they’re missing you.” Lanjutnya.
“But you have to watch me die first.” Ucapnya lagi.
Ia lalu berjalan ke kamar mandi dan kembali membawa sebuah tas kecil lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Silet.
“No! You have to!” Teriaknya. “You don’t want me anymore wright? Now you have to watch me die! You have to be witness of your own cruelty!”
Angga lalu mengambil bolpen lalu mulai menulis sesuatu di nota yang tersedia di nakas di pinggir ranjang.
“I write down your office number here so they can contact your family when they break in into this room. Then you can go home.” Angga berkata pelan.
Ia mencium kening orang yang terikat di kursi itu. Angga lalu naik ke ranjang, dengan silet di tangannya.
“I’m sorry we have to end this way. I can’t live without you and can’t see you with another guy! I love you too much!” Angga berkata lirih sambil menempelkan silet ke pergelangannya. Air matanya menetes.
Dengan mata masih menatap seseorang yang terikat di kursi itu silet mulai memotong pergelangan tangan kirinya. Pedih tak dihiraukan. Darah mulai memancar keluar dari nadinya.
“This is for you honey! I Love you and I’m sorry.” Ucapnya setelah beberapa saat. Rasa lemah mulai menggelayuti tubuhnya. Mulutnya menggumamkan sebuah lagu. yang semakin lama semakin lemah terdengar.
Ranjang hotel berseprai putih kini berwarna merah oleh darah. Sunyi menyelimuti kamar hotel itu.
Dua jam lebih Angga menanti maut. Ia pun akhirnya tewas kehabisan darah.
Kesunyian kamar hotel itu dipecahkan oleh dering telepon yang beberapa kali berbunyi.
Tak ada tanggapan dihubungi via telepon mengingatkan waktu cek out, lewat jam enam sekuriti hotel memutuskan untuk membuka kamar hotel bernomor 617 itu dari luar. Saat dibuka kamar itu gelap dan mengeluarkan bau yang bercampur antara asap rokok dan bau anyir. Mereka makin terperanjat saat lampu dinyalakan.
Mayat Angga terbujur kaku di tempat tidur bermandikan darah sementara di kursi terikat seorang pria kulit putih dengan mulut ditutup, noda darah menyebar di karpet dibawah kursi nya. Tubuhnya pucat membiru dengan luka terbuka dipergelangan tangan diperkirakan telah mati lebih dari duapuluh empat jam.
Dua buah dompet, tiga buah handphone, sebuah cek sebesar tiga juta rupiah, sebuah foto sang pria kulit putih dengan seorang wanita dan dua orang anak kecil tergeletak di nakas bersama secarik kertas bertuliskan beberapa nomor telepon dan nama, diakhiri dengan kalimat “SORRY FOR THE MESS!”