header image
 

Does Indonesia Really Matters?

About

Indonesia Matters

Masya ALLAH!Makin banyak aja musuh orang Islam/Muslim. Memang dari dulu udah banyak atau karena memang baru keliatan aja ya? Belum lagi masalah penindasan di beberapa negara yang mayoritas berpenduduk Muslim oleh tentara NATO selesai,umat Islam makin diserang fitnah yang makin merebak dimana-mana, apalagi di Indonesia. Bila ada suatu kejadian, kalau yang pelakunya Muslim atau sekelompok Muslim pastilah kejadian itu bisa jadi headline yang luas seantero negeri, bisa jadi ke luar negeri juga. Tapi kalau sebaliknya, dijamin berita tersebut bagaikan angin lalu yang tak dianggap.

Saat sedang mencari berita tentang hebohnya kedatangan bintang porno Miyabi, gak sengaja nemu sebuah website berbahasa inggris yang bernama Indonesia Matters, judulnya sih cakep, kesannya nasionalis banget apalagi pake ornamen-ornamen tradisional sebagai hiasannya. Namun pas dibuka dan dibaca serta mencermati topik-topik yang dibahas, isinya ternyata lebih menyerupai semacam tempolong ludah bagi warga negara asing dan orang Indonesia (yang westernized) untuk mencela, memberi unek-unek nyeleneh tentang persoalan yang menyangkut umat Islam.

Misalkan soal masalah kedatangan Miyabi yang di tentang oleh MUI dan FPI, rata-rata mereka menganggap MUI gak punya kerjaan melarangnya dan kedatangan Miyabi itu hak nya dan menentang HAM, malahan banyak yang menganggap MUI dan FPI itu sok suci dan lebih kasar lagi ada yang gak yakin MUI dan FPI gak pernah nonton Blue Film atau main dengan pelacur. Subhanallah! Saat ada yang membantah dan membawa ajaran agama Islam dalam bantahannya mereka mengganggap lebih penting melihat seseorang dari segi manusianya daripada iman atau moralnya. Gak heran kalau generasi muda kita tambah rusak ya?

Yang lucu dan ajaib (sambil membuka belang mereka sendiri) saat mengomentari topik Qory Sandioriva dan Soraya Abdullah. Qory yang di tentang sebagian besar rakyat Aceh karena membuka Jilbab demi ikut Putri Indonesia di dukung oleh sebagian oleh mereka dengan alasan itu adalah hak pribadi Qory sementara Soraya Abdullah yang justru memakai Burqa di cela karena menurut mereka menjadi primitif dan kearab-araban. Bukankah itu hak Soraya juga untuk memakai burqa? Aduh, AMERIKA banget gak sih? Which is selalu pakai double standard, he he he.

Makin penasaran, aku klik ‘about’ yang ada di website ini dan terjawablah pertanyaanku dengan sebuah deskripsi pendek tentang website tersebut, yang begini bunyinya:

What is Indonesia Matters (IM) about?

The site’s primary themes are politics, culture, religion and religious freedom issues, with a particular focus on what might be called Islamization, but sometimes stories fall into the category of globalization, westernization, or other. Additionally there are more light-hearted pieces on popular culture and current events.

Tema-tema utama kami adalah politik agama dan kebebasan beragama dengan fokus utama pada sesuatu yang disebut sebagai ISLAMISASI, tapi cerita kadang beralih kepada kategori globalisasi,westernisasi dan lainnya. Sebagai tambahan, ada juga hal-hal ringan tentang budaya masa kini dan even-even saat ini.

Makin membaca topik-topik yang lain, kalau anda seorang muslim dan meyakini Islam adalah agama yang paling benar dan baik,pasti bakalan gemes, sanggahan mereka-mereka yang menggunakan dalil agama di alihkan dengan cara membawa isu-isu fitnah yang sedang melanda umat muslim;terorisme, Syeh Puji yang kawin dengan anak dibawah umur,kekerasan oleh beberapa ormas Islam dll, di stigmatisasi seolah-olah itulah ajaran Islam,malah ada yg klaim bahwa muslim adalah yang paling banyak membantai kaumnya sendiri, Subhanallah!

Enak ya? Nyari duit di sini, di negeri yang mayoritas Muslim tapi sempat-sempatnya nyela agama mayoritas orang sini;Islam. Gak malu ya? Mudah-mudahan ALLAH bikin mereka sadar dan malu kepadaNYA, kita dan tanah yang mereka tumpangin. Sementara buat yang Muslim supaya sadar dan selalu mawas diri bahwa fitnah mereka terhadap keimanan dan kepercayaan kita gak bakal habis hingga akhir zaman , kita musti terus berpegang teguh dan yakin bahwa ISLAM lah satu-satunya agama yang di ridhoiNYA dengan selalu ingat salah satu firmanNYA yang artinya sebagai berikut:

QS. AL BAQARAH:120

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

MAHA BENAR ALLAH dengan segala firmanNYA.

Belakangan mikir, Indonesia Matters itu jangan-jangan singkatan Indonesia Muslim Hatters kali ya. Wallahualam.

Satu Setengah Jam

Satu setengah jam aku mendengar ‘ceramah’ dari seorang laki-laki bertitel kakak itu. Ceramah tak menyejukkan hati yang malah memberi kesan bahwa Allah itu amat kejam dan pemilih dengan mengkotak-kotakkan umatNya. Bukankah kita-manusia-yang sesungguhnya kejam terhadap diri kita sendiri? Membiarkan saudaranya menderita sambil menyalahkannya dan menganggapnya jauh dari sang Khalik?

Satu setengah jam itu aku tak banyak bicara, aku biarkan dirinya bersuara tanpa ada sanggahan ataupun sela.

Satu setengah jam itupun diselingi pujian terhadap diri sendiri. Ia menceritakan kerajinannya beribadah dan menghadiri Majlis Taklim, hingga membuat diriku bertanya dalam hati;masih adakah pahala dari segala Ibadah dan Taklim itu setelah ia me-Riya-kannya ditelingaku ini?

Saat sesi satu setengah jam itu selesai, intinya adalah aku seorang pendosa, aku tak beribadah, aku orang yang ummi terhadap ajaran agamaku sendiri. Demi Allah, nyaris kafir aku mendengar semua tuduhan itu. Astagfirullah Hal Adziim.

Dibalik itu semua aku tesenyum dalam hati. Biarlah aku dianggap bodoh, biarlah diri ini diangap tak suci dan tak beriman, biarlah semua titel buruk itu di sematkan kepadaku. Allah lebih tahu isi hati, jiwa dan ragaku dibanding kamu. Karena kepadaNya pula aku meminta, bukan kepada mu!

Sepulang dirinya,aku langsung masuk ke kamarku. Sambil berbaring pikiran ku melayang mengingat semuanya hingga membuat diri ini bertanya; siapakah aku? Siapakah mereka? Apa yang aku lakukan disini? Siapakah aku di mata mereka? Yakinkah bahwa mereka adalah keluargaku? Mengapa aku merasa berbeda dari mereka?

Sampai terlelap semua pertanyaan itu masih menggayut di pikiranku.

PHK II

Aku hanya bisa menarik nafas panjang saat Okky mengatakan bahwa kami-aku dan tiga orang teman lainnya- ‘terpilih’ terkena ‘perampingan’ dikarenakan kondisi perusahaan yang makin tidak sehat. Setelah itu aku seperti tak mendengar apa-apa lagi. Diri ini seperti diikat erat lalu dimasukkan kedalam ruang kedap suara yang hanya bisa mendengar gumaman Okky tentang bersabar dan sukses mendapat pekerjaan baru hingga akhirnya ia berdiri lalu menjabat tangan kami. Aku terlalu terkesima akan kejadian yang super cepat itu.Aku baru sadar saat kembali ke mejaku, melihat sekeliling ruangan dan teman-temanku;ini hari terakhirku disini.

Tak lama berita PHK kami tersebar. Bagaikan jenazah, meja kami-kami di layati kawan-kawan yang bersimpati.

“Sabar ya!” Ucapan itu yang rata-rata keluar dari mulut mereka.

Mudahnya menyuruh bersabar saat kalian tak mengalaminya, kataku dalam hati. Berupaya terlihat tegar sambil menebar senyum simpul.

Beribu pertanyaan bertabur dikepala. Bagaimana hidupku nanti? Bayar tagihan-tagihan pakai apa? Ngapain nanti selama nganggur? Gampang gak ya dapat kerjaan baru? Dan bermacam pertanyaan lain yang beberapa diantaranya kepada Tuhan.

Yang pertama hanya satu kata;

“Mengapa?”

Yang ke dua;

“Lagi,Ya Allah?”

Yang ke tiga

“Tak cukupkah ujian Kau timpakan kepadaku?”

Yang ke empat;

“Kapankah Kau memberiku kebahagiaan yang hakiki?”

Walaupun aku mempertanyakan keputusan Tuhan buatku di hari itu ujung-ujungnya kepadaNya juga aku berdoa. Diawali dengan nafas panjang doa itu yang seperti sebuah usaha menenangkan diri itu terucap;

“Ya Allah, bantu diriku menghadapi ujianMu ini.”

Saat sendiri rasa sesal muncul. Dulu kepala ini begitu sibuk memikirkan hal-hal tak penting yang berseliweran dalam hidupku terutama cinta, hingga lupa bahwa aku sebenarnya telah memiliki hidup dan karier. Aku hanya perlu mensyukurinya. Tak kurang dan tak lebih. Tapi aku alpa. Dan kini satu nikmat telah diambilNya. Tak banyak yang bisa kulakukan selain pasrah.

Lalu dengan segala daya dan upaya yang maha keras aku berusaha untuk tidak terlihat sedih, kesal, marah beserta kawan-kawannya. Kucoba tersenyum kepada teman-teman ku walau hati ini merasa aku sedang tersenyum sebagai seorang pecundang; senyum kehancuran.

Di makan siang terakhir itu kami banyak tertawa. Maksudku teman-teman kami sepertinya tertawa sungguhan tapi kami yang di PHK-paling tidak aku- hanya pura-pura tertawa. Aku tak tahu apa yang harus aku tertawakan. Bayangan hidup yang tak menentu menari sejak tadi di pelupuk mata. Segala hal menjadi kabur, kegamangan mencengkeram jiwa ini hingga tak mampu untuk fokus.

Sebelum sore kami pulang. Salam dan peluk menghujani kami beserta ucapan-sekali lagi-sabar, plus wish luck mendapat pekerjaan baru. Saat keluar dari gedung itu aku seperti di lempar keluar dari kereta yang sedang melaju cepat di tengah hutan gelap di tengah malam; sakit dan tersesat. Tak tahu harus kemana.

Menuju halte bis ada rasa aneh melihat dunia yang masih berputar dengan lancar saat hidupku sedang dalam jeda. Seperti burung yang sayapnya patah sementara yang lain masih asik terbang disekelilingnya. Pedih.

Lalu apa yang harus kuceritakan kepada orang rumah? Pertanyaanku di jawab gemuruh halilintar. Mendung menggayut dilangit Jakarta. Kelabu, sekelabu hidupku saat itu.

Tak lama hujan rintik pun turun. Menyamarkan airmata yang telah menetes sejak tadi.

Brokenhearted Girl Part II

All the girl’s sadness and desperation was noticed by an evil witch who lives in the same forest with her. She needs an apprentice to follow her evil way and to inherit all her evil spells. She thinks that a desperate person is most suitable candidate. She chooses her.

One night she disguised herself as a fairy and visits her while she was asleep. In a glowing light she appears beside her bed.

+ My dear child…what kind of trouble are you in that makes you so sad and desperate?

-Oh..who are you? What are you doing in my hut?

+ I’m your fairy godmother sweetheart, I’m here to help you through any problems you are having.

-Really? I have a fairy godmother?

The girl jump from her bed.

-Can you bring my lost love back my fairy godmother?

+Anything for you sweetheart! First I need a bucket of water to see his well being.

-Of course my fairy.

She ran instantly to get what she needs. The girl doesn’t know that she will be tricked and fooled by the witch. Not long she came back with a bucket of water.

-Here it is my fairy..find him please!

+Patience girl, his image and whereabouts will be displayed on the water, but before that you have to be strong that what you might see will not be something pleasant for you. Understood?

The girl hesitates but she determines to find him.

-I am ready my fairy.

+Now look into my eyes and let me in into your memory.

She does what she told her she look into her eyes, suddenly everything becomes dark and she feels dizzy. The witch does that to capture memories of the man she loves than she will create his image on the water.

+Ok. Now you can see to the water.

Still shaking she starts to look at the bucket, no images at the beginning but then she sees him;

-Oh, my love. He is alive my fairy! Healthy and…

At first she is very happy to see the man she’s in love with is alive but then she gasps. Something she saw next was so painful; a beautiful woman comes to him then hugs and kisses him. They look so happy.

She turns her eyes from the bucket then starts to cry.

The witch smiles behind her back, her first plan runs smoothly. Fake images she creates crushed the girl’s heart instantly. She rushes to get her and hold her kindly.

+I did warn you didn’t I my child? Be patience. You are in my good hands. I will help you to get your new love. Men are hard creatures to trust sweetheart. Women are just toys to them; they’re into lust not love. Only few of them have hearts.

-No! I don’t want to fall in love again. I hate love! I hate men! I want them to suffer!!

She cried in pain.

+Is that what you want, my child? Men to suffer?

-Yes I do. I want all men to suffer.

+It will be done my dear.

Then the witch opens her hand. A black pearl was there.

+I’ll put this charm into your body. It will make you look prettier and your voice will be so lovely and very attractive to man. Blow your breath to them, if his heart filled with lust he will fell into your spell then he will be your slave forever. You can do anything to him. But when his heart filled with love your spell will not effect him. Swallow this pearl!

The girl opens her mouth and swallows the pearl right away.

Nothing weird happens after she swallows it but she feels her body much lighter.

-Then what I do my fairy?

+The charm inside will guide you. You will see it at the next full moon. Prepare yourself.

-I’ll do my best my fairy.

+This is only the beginning my child. I’ll give more to you. But remember; never say I love you again to any man. When you do, the power I’ve given to you will disappear.

-Yes my fairy. Thank you so much!

She disappeared into thin air.

Now there is conflict in her heart. She is not a cruel person that uses to do bad things to other. But the image she saw was unforgettable. She feels fooled and betrayed but still she’s not sure that she could allow herself to do evil things.

The charm she swallowed didn’t allow that for too long. It starts to fills her mind with negative thoughts and reminds her of her pain and heartbreak. Now anger rules above else in her heart.

Full moon is just few days to come. She is ready for anything.

To be Continued………….

Posesif

“You know how much I love you, don’t you?” Angga berkata sambil mengepulkan asap rokoknya.

‘Then why did you do that to me???” Angga berteriak keras.

“Why..why..why???” Berkali kali kalimat itu ia teriakkan kepada seseorang yang terikat di kursi.

Beberapa lama kemudian pintu kamar hotel yang tak seberapa besar itu diketuk orang.

“Sebentar!’ Angga menjawab ketukan dengan segan. Lalu mematikan rokoknya.

Seorang pria bersafari hitam berdiri didepan pintu saat Angga membuka pintu kamarnya sedikit. Sekutiti hotel.

“Maaf pak, tamu-tamu yang bersebelahan dengan bapak mendengar teriakan dari kamar ini, ada masalah pak?” Tanya pria itu sambil matanya berusaha melihat ke dalam kamar. Bau asap rokok yang kuat keluar dari dalam kamar.

“Oh maaf, saya sedang latihan untuk audisi pak. Saya tidak mengira kalau suara saya ternyata terdengar oleh tamu di kamar yang lain.” Jawab Angga dengan sopan sambil tersenyum.

“Akan saya coba untuk tidak terlalu berisik. Maaf!” Katanya lagi.

“Baik pak, tapi kalau masih ada keluhan dari tamu yang lain terpaksa Bapak akan kami usir.” Tegas si sekutiti lalu pergi.

“Monyet!!” Angga menutup pintu sambil menyumpah dan mengambil tag Do Not Disturb lalu menggantungkannya di depan pintu kamarnya.

Ia menghela nafas.

“Back to us.” Angga berkata lagi.

“Kamu pikir saya bodoh? You think I am dumb?” Ucapnya lagi “You think I don’t know that you’ve been seeing another guy?”

“How could you do that to me?” Angga hampir berteriak tapi ditahannya.

“Two years we’ve been together. Isn’t that something to you?” Ucapnya lagi dengan emosi yang di tahan.

Kesunyian menjawabnya.

“All that I’ve done to you is nothing, isn’t it? I’m just your toy that you can throw away when you get bored, am I?” Angga duduk di karpet.

“You took me for granted!!!” Ia berteriak ke arah kursi di susul kata-kata kotor dalam bahasa Inggris

“How could you? I love you soooo much….!” Suaranya berubah lirih dan berlanjut menjadi isakan lalu tangisan yang berlarut-larut.

“I don’t wanna lose you..I love you..!” Kata-kata itu terus ia ucapkan sambil ia menangis.

Tak lama tangisannya reda. Matanya kosong menerawang langit dari jendela kamar. Selama beberapa saat ia terus begitu lalu menoleh ke arah kursi.

“I’ll let you go baby. I’ll let you go for good” Ucapnya beberapa saat kemudian.

“You can go home to your family. Sorry to keep you here for two days. I’m sure they’re missing you.” Lanjutnya.

“But you have to watch me die first.” Ucapnya lagi.

Ia lalu berjalan ke kamar mandi dan kembali membawa sebuah tas kecil lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Silet.

“No! You have to!” Teriaknya. “You don’t want me anymore wright? Now you have to watch me die! You have to be witness of your own cruelty!”

Angga lalu mengambil bolpen lalu mulai menulis sesuatu di nota yang tersedia di nakas di pinggir ranjang.

“I write down your office number here so they can contact your family when they break in into this room. Then you can go home.” Angga berkata pelan.

Ia mencium kening orang yang terikat di kursi itu. Angga lalu naik ke ranjang, dengan silet di tangannya.

“I’m sorry we have to end this way. I can’t live without you and can’t see you with another guy! I love you too much!” Angga berkata lirih sambil menempelkan silet ke pergelangannya. Air matanya menetes.

Dengan mata masih menatap seseorang yang terikat di kursi itu silet mulai memotong pergelangan tangan kirinya. Pedih tak dihiraukan. Darah mulai memancar keluar dari nadinya.

“This is for you honey! I Love you and I’m sorry.” Ucapnya setelah beberapa saat. Rasa lemah mulai menggelayuti tubuhnya. Mulutnya menggumamkan sebuah lagu. yang semakin lama semakin lemah terdengar.

Ranjang hotel berseprai putih kini berwarna merah oleh darah. Sunyi menyelimuti kamar hotel itu.

Dua jam lebih Angga menanti maut. Ia pun akhirnya tewas kehabisan darah.

Kesunyian kamar hotel itu dipecahkan oleh dering telepon yang beberapa kali berbunyi.

Tak ada tanggapan dihubungi via telepon mengingatkan waktu cek out, lewat jam enam sekuriti hotel memutuskan untuk membuka kamar hotel bernomor 617 itu dari luar. Saat dibuka kamar itu gelap dan mengeluarkan bau yang bercampur antara asap rokok dan bau anyir. Mereka makin terperanjat saat lampu dinyalakan.

Mayat Angga terbujur kaku di tempat tidur bermandikan darah sementara di kursi terikat seorang pria kulit putih dengan mulut ditutup, noda darah menyebar di karpet dibawah kursi nya. Tubuhnya pucat membiru dengan luka terbuka dipergelangan tangan diperkirakan telah mati lebih dari duapuluh empat jam.

Dua buah dompet, tiga buah handphone, sebuah cek sebesar tiga juta rupiah, sebuah foto sang pria kulit putih dengan seorang wanita dan dua orang anak kecil tergeletak di nakas bersama secarik kertas bertuliskan beberapa nomor telepon dan nama, diakhiri dengan kalimat “SORRY FOR THE MESS!”

Akhir Hidup Sang Teroris

Datang juga akhir hidup para teroris Bom Bali I, setelah 6 tahun dinanti keluarga korban hasil karya mereka. Entah apa yang ada di pikiran mereka sekarang, menanti dengan harap-harap cemas apa yang ada di ‘seberang’ sana, bidadarikah yang atau malaikat-malaikat bengis yang siap dengan azab yang maha pedih.Wallahualam.

Aneh rasanya saat mendengar mereka bertakbir, tidak ada getar itu. Getaran dari sesuatu yang memang sakral dan suci. Ditelinga ini kalimat ALLAHU AKBAR dari mulut mereka terdengar bagaikan sebuah cemoohan terhadap muslim lain yang berusaha menjadi Rahmatan Lil Alamin, kalimat milik Yang Maha Suci itu seolah menjadi sebuah password yang melegalkan tindakan mereka yang brutal. Yang seakan bisa menjadi kunci pembuka bagi mereka ke surga Allah.

12 Oktober 2002, 202 nyawa hilang terpanggang dan terburai, apakah hasilnya? Sebuah pengukuhan tambahan bagi orientalis barat  bahwa Islam agama teroris, sebuah justifikasi baru terhadap stigma negatif terhadap seluruh muslim. Mereka bukan menegakkan agama Allah malah semakin menjatuhkannya bertamengkan Jihad. Terlepas karena para korban adalah non muslim tak ada satu orang pun yang berhak membunuh manusia lain karena kepercayaan yang berbeda.

Jihad adalah sesuatu yang suci, dan berperang ada di daftar paling bawah dari padanya. Seorang bapak yang mencari nafkah untuk keluarganya adalah Jihad, seorang kaya yang mendermakan hartanya untuk dhuafa juga Jihad, segala sesuatu yang dilakukan dengan iklas dan semata-mata atas nama Allah dan demi tegaknya agamaNya adalah Jihad. Lalu membunuh ratusan orang yang mengakibatkan buruknya nama Islam dan muslim seluruh dunia adalah Jihad? Kita bukan di Palestina atau Iraq yang dijajah bangsa lain, jadi mengangkat senjata bukan solusi untuk kaum muslimin dinegeri ini karena Islam bukan agama teror malah Islam adalah korban teror itu sendiri. Setiap kali sebuah teror mengatasnamakan Islam, muslim lainlah yang menjadi korban yang paling tak berdaya. Tak berdaya menangkal fitnah yang terlanjur terjadi mengatasnamakan agama Allah.

Ada kisah yang sebenarnya bisa dijadikan teladan bagi orang-orang yang selalu berpikir tentang kekerasan. Saat Rasulullah di awal masa kenabiannya berdakwah di Thaif agar masyarakat disana menerima Islam dan dirinya sebagai Rasulullah, alih-alih diterima malah cacian, hinaan bahkan lemparan batu menghujani Beliau hingga terluka. Malaikat Jibril yang tak tahan melihat itu semua mendatangi Rasulullah dan ‘menawarkan’ untuk melumat mereka-mereka yang menghujat Rasullullah dengan bukit yang tak jauh dari sana, Rasullulah karena kasihnya yang amat besar menolak dan mengatakan bahwa mereka hanya belum mengerti apa yang sebenarnya sedang dilakukannya. 

Inilah bukti bahwa Rasulullah membawa dan mengajarkan Islam dengan damai bukan kekerasan dan keangkaramurkaan walau kekuatan ada di tangannya. Ada suatu kisah lain yang mungkin bisa menambah rasa kasih sayang kita terhadap sesama bahkan mahluk Allah yang lain, suatu waktu salah satu Sahabat Nabi bermimpi bahwa beliau telah wafat dan masuk surga. Di surga beliau ditanya oleh Allah apa yang membuatnya bisa masuk surga, beliau menjawab bahwa atas ibadahnya yang luar biasalah dirinya bisa masuk surga. Allah membantah dan mengatakan bahwa ibadahya masih belum cukup untuk bagi beliau untuk masuk ke dalam surgaNya, Allah menerima sang Sahabat ke dalam surgaNya karena pada suatu hari ia membiarkan seekor lalat minum di secangkir teh miliknya. Subhanallah.

Semoga seusai mereka dieksekusi tak ada lagi orang-orang sesat yang memutarbalikkan tafsir sebagai jalan kepada kebrutalan dan semoga juga tak ada lagi Amrozi cs lain yang lancang mengatasnamakan nama dan agama Allah untuk menunjukkan derajat kemanusiaan mereka yang rendah.

Pro-Kontra UU Pornografi;Moralitas vs Mata Pencaharian

Alhamdulilah! UU Pornografi jadi juga disetujui, walau ada acara show off berupa walk out dari dua fraksi yang memang posisi mereka sudah jelas sejak dulu plus ‘pembangkangan’ beberapa propinsi yang memang sepertinya budaya porno sudah hampir mendarah daging disana.

Kalo gue sih setuju-setuju aja ada UU macam itu, toh gue bukan artis porno atau pelaku bisnis yang mengarah ke pornografi. Meskipun gue  juga kadang-kadang  buka website porno tapi gue tetap merasa hal tersebut harus tetap menjadi barang ilegal yang haram disebarluaskan apalagi dilegalkan. Munafik kah gue? Mungkin untuk beberapa orang;ya, tapi dari kacamata gue, biarlah gue sajalah yang sudah terlanjur ‘rusak’ sementara yang lain jangan sampai  menjadi pecandu media-media porno tersebut.

Gue sih memang hanya sekilas mengetahui tentang esensi UU pornografi itu tapi  masalahnya apa kalau ada UU pornografi? Seperti uraian gue tadi, gue gak bermasalah karena gue bukan pelakunya. Yang membuat adanya UU pornografi sebagai sebuah masalah ya orang-orang yang merasa terancam mata pencahariannya, mereka-mereka yang selalu meletakkan pornografi di grey area beralaskan ekspresi seni rupa juga pengelola hiburan malam yang suka vulgar tentunya.

Seni lagi seni lagi yang jadi alasan, kalau memang niatnya gak mau bikin sesuatu yang porno ya kenapa takut? Eksplorasi seni itu masih sangat luas untuk di gali, gak harus ada yang bugil atau ciuman Insya Allah laku kok. Di film udah ada buktinya; Ayat Ayat Cinta , 4 juta orang klo gak salah sudah nonton film itu. Isinya gak ada sebuah pahapun terlihat, desahan nafas atau erangan pemain wanitanya, malahan kebanyakan perempuan-perempuan berhijab yang ada di sana. Intinya, tanpa ada adegan seks yang heboh atau pakaian sexy pemainnya sesuatu yang bernilai pasti akan laku dijual dan masih banyak ragam seni yang bisa dihasilkan tanpa harus porno.

Mengenai aktivis perempuan yang melihat ini sebagai sesuatu yang membelenggu perempuan, perlu ditanya perempuan-perempuan yang mana sih yang merasa terbelenggu? Apanya yang dibelenggu? Jelaskan dan tunjukkan. Terus kalau ada yang bilang ‘biarlah urusan moral diatur pribadi masing dan dipertanggungjawabkan sendiri dihadapan Tuhan’ jawabannya adalah; misalkan mobil kamu dicuri orang lalu si maling  menolak ditangkap lalu bilang ‘Urusan pencurian mobil ini adalah urusan saya dengan Tuhan Pak’ lalu ngeloyor pergi. Menurut loh?

RUU Pornografi adalah bentuk Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang dikenal umat muslim yang artinya pencegahan untuk berbuat maksiat, makanya gak heran ada salah satu partai yang didominasi agama tertentu walk out. Porno atau gak itu memang tergantung kebiasaan masing-masing.  Yang biasa free sex, ciuman di depan umum ya bukan sesuatu yang tabu, buat yang gak biasa ya pasti ogah. Moralitas memang gak bisa diukur dari pribadi masing-masing. Perlu ada tolok ukur yang wajar yang bisa dijadikan acuan. Untuk itu gue yakin RUU Pornografi dibuat, bukan untuk memasung kreatifitas seseorang atau budaya tertentu. Sekali lagi kalo gak niat porno buat apa takut.

Uang dan perluasan usaha adalah tujuan utama mereka yang menolak UU Pornografi. Dana yang besar mengalir ke pundi-pundi LSM yang kontra UU Pornografi tersebut, tujuannya; agar terpeliharanya ‘pasar’ untuk produk-produk tertentu yang berbau pornografi tentunya, itu dari kacamata ekonomi. Dari kacamata budaya, seperti yang disinyalir Al Qur’an terhadap kaum Yahudi & Nasrani garis keras: “Yahudi & Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka” Artinya mati-matian mereka berusaha agar kita menjadi seperti mereka. Mereka pun sudah senang banget walaupun kita gak sampai menjadi pemeluk agama mereka, toh gaya hidup kita sudah sama. Dan sekarang-sekarang ini kayaknya mereka makin berhasil tuh, liat aja gaya hidup kita yang makin open & permisif terhadap hal-hal yang sebenarnya bertentangan dengan Budaya dan Agama kita(Islam).

Rasullullah SAW pernah bersabda bahwa diawal kedatangannya Islam dianggap terlalu maju dan diakhir zaman dianggap terlalu kuno, dan hal ini sudah semakin terlihat akhir-akhir ini. Kalau sampai yang kontra UU Pornografi tersebut tambah mengganas aktivitasnya, bangsa ini memang hampir menjadi kaum Nabi Luth yang mencemooh sang Nabi yang melarang mereka berzina. Tinggal tunggu hujan batu aja deh kita.

Naudzubillah Min Dzalik.

Ayam Kelaparan Di Lumbung Penuh Padi

15 September 2008/15 Ramadhan 2009 H, tragis; 21 Orang tewas karena berdesak-desakan saat mengantri zakat yang dibagikan oleh seorang dermawan di Jawa Timur, korban rata-rata wanita yang berusia lanjut. Dan kita makin terhenyak ketika tahu mereka tewas hanya untuk uang beberapa puluh ribu rupiah.  Kita hanya bisa mengelus dada melihat semua kepedihan itu. Menyesali keadaan..

Lepas dari kesalahan pihak dermawan yang kurang koordinasi dengan keamanan dan tata cara pembagian yang amburadul kita juga bersalah. Kalau ada ungkapan “curiosity kills the cat” untuk beberapa hal “ignorance kills a human”, salah satu hasil nyata keacuhan tersebut ya kemiskinan.

Kemiskinan dan kesengsaraan saudara-saudara kita itu adalah produk dari sikap sebagian besar masyarakat yang makin hidup  individual, berslogan EGP (Emangnya Gue Pikirin), harga barang pokok yang melambung disamping konsumerisme yang menjadi yang membuat tak ada sisa uang untuk bersedekah. Ditambah pemerintah yang tidak bisa menjadi pelindung bagi masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan. Itulah yang membuat saudara-saudara kita yang malang itu rela antri berdesak-desakan menyabung nyawa demi beberapa lembar puluhan ribu rupiah. Mereka laksana ayam yang kelaparan di lumbung penuh padi. Mengapa mereka kelaparan? Karena tak ada yang mau membagi mereka beberapa bulir padi.

Apakah mereka mau mengantri seperti itu jika hidup mereka cukup? Tidak! Orang yang tidak se-desperate seperti mereka tak akan mau membuang waktu untuk uang secuil.  Di tengah badai kenaikan barang kebutuhan, uang sebesar itu pun bagaikan anugerah bagi yang membutuhkan.

Banyak kok orang-orang dinegara ini yang luar biasa kaya tapi kesadaran mereka sangat miskin. Asyik berglamour ria memamerkan kekayaan mereka mulai dari rumah dan mobil mewah hingga tas tangan puluhan juta rupiah, riang gembira menikmati hidup berseliweran didepan mata saudara-saudara mereka yang semakin dicengkram kemiskinan. Subhanallah!

Sudah saatnya pembangunan dilakukan tak sekedar kosmetik yang hanya mempercantik negeri ini tapi pembangunan yang benar-benar bisa memberi kesejahteraan bagi seluruh warga negaranya saja. Bukan hanya bisa dinikmati orang-orang kaya, tapi juga masyarakat marjinal yang hidupnya selalu tak menentu. Sudah saatnya juga yang berpunya malu menyombongkan kepemilikannya di masa yang sedang susah ini  dan sudi menyisihkan hartanya untuk membantu. Jangan sampai kita tak dianggap sebagai umatnya oleh Rasullullah SAW karena bisa tidur nyenyak saat tetangga kita tak bisa tidur karena kelaparan. Naudzubillah.

Us,History In The Making

Isi kepala gue kali ini terinspirasi film Flags Of Our Fathers, tentang beberapa prajurit AS yang terfoto saat mereka sedang menaikkan bendera di bukit tertinggi di Iwo Jima pada PD II. Hasil foto tersebut ternyata sangat menggugah perasaan banyak pihak saat muncul di koran, tiga orang yang masih hidup secara instan mereka jadi pahlawan, diarak keliling negeri untuk mengajak masyarakat AS saat itu untuk menyumbang dana bagi peperangan. Tiga orang tersebut gak pernah menyangka, hidup mereka akan berubah karena tindakan remeh mereka yang semata-mata hanya menjalankan tugas dan akan dianggap sebagai hal yang luar biasa bagi orang lain hanya karena kejadian tersebut terekam dalam kamera dengan hasil yang sangat dramatis. Sejarah pun tercipta.

Perasaan gue juga tergugah saat melihat foto Ismail Marzuki bersama istrinya di sebuah majalah. Di Foto jadul hitam putih yang agak kusam itu mereka sedang tersenyum. Sangat natural dibanding foto-foto tokoh jaman doeloe negara ini.  Gue yakin mereka gak akan tahu kalau puluhan tahun kemudian foto mereka akan dilihat banyak orang sebagai bukti sejarah hidup mereka,walaupun foto mereka hitam putih  hidup mereka dahulu adalah se berwarnanya dengan hidup kita sekarang. Oh my God..

Lalu gue pun mulai membuka file-file foto di laptop gue, yang dipenuhi  foto-foto saat gue masih kecil hingga sekarang, baik sendiri ataupun bersama teman. Lalu satu foto mencuri perhatian gue, foto gue bersama seorang teman yang sudah balik ke negaranya yang gue gak tahu kita bakal ketemu lagi apa gak. Kita sedang tersenyum berdua. Tiba-tiba gue merasa that those pics will be our history. Membuat gue sadar kalau suatu saat apakah kita terkenal atau tidak kita bakal jadi sejarah, sejarah orang-orang yang pernah mengenal kita.

Saat ini kita sedang membuat sejarah, apakah sejarah yang sifatnya personal, nasional,  regional atau bahkan internasional. Gak penting siapa kita, kita adalah pelaku sejarah hidup kita sendiri dan orang-orang yang dekat dengan hidup kita begitu juga mereka. Sekecil apapun perbuatan kita, setiap detik sejarah sedang kita buat sambil kita menyaksikan sejarah yang sedang dibuat oleh orang lain.

Suatu hari, dalam keadaan afiat maupun wafat mungkin kita akan jadi cerita orang –orang yang pernah mengenal kita sambil membuka-buka album foto yang ada kita didalamnya bersama tawa ataupun linangan airmata, begitu juga sebaliknya. Sad isn’t it?

Terima atau gak, We Are History In The making.

Mirrors

Often use mirrors? Like to see yourself on it? What if it was not your true image? What if it’s not you who’s looking at the mirror instead the mirror is looking at you and watching you. This is what the movie is about. Another unique remake of Asian mind blowing story about the ‘other world’.

Benjamin(Kiefer Sutherland), an ex cop who trying to get his life back after got fired for shooting another policeman got a new job as a security of an old building. The classy department store that was burnt out and left nothing but it’s passed glory. One thing that still intact to that building are the mirrors, clean and shiny, but that where the problems come. They’re invested with evil spirits.

Benjamin starts to see things that can only be seen on the reflections of the mirror, even it gives him pain. As the terror got worse, it’s starts to claim his closest people’s life and demand one name to be find; Esseker. Then he discovered that before the building use as department store it was a mental hospital where sometime in the past some of its patients mysteriously killed at the same time. Feared that his family will be the next victims he desperately searches for Esseker. Running out of time he finally found Esseker, while the terror already grasping on to his family. Will he make it?

Love to get scared? You’ll love this film; it’s filled with surprises that can make your heart beats faster, with great visual and make up effects and superb sound this movie will make you jump off of your seats often as well, but to those who’s not a big fan of this kind of movies you better stay out! Especially with a gross violence that shown explicitly in some part of it.

Trust me; you won’t stay in front of mirrors too long after seeing this one.