JANJI LALU…SORRY!
Seumur hidup kita akan selalu berurusan dengan Janji. Janji sama Teman, Dokter, Klien dsb. Ia dan kata Sorry bila digabungkan akan menjadi kalimat keramat yang biasanya digunakan oleh orang yang sedang terdesak dan meminta pengampunan. “Sorry, janji aku gak akan selingkuh lagi deh..!” misalnya, biasanya digunakan oleh suami/pacar yang ketahuan dekat dengan orang lain. Kata Janji tersebut seolah menjadi penguat sebuah penyesalan atas sesuatu yang telah terjadi, apapun itu. Tapi bukan konteks itu yang akan gue bahas, gue akan bahas tentang komitmen kita terhadap sebuah janji.
Kenapa ya kata janji bisa mempunyai nilai yang berbeda bila dipakai untuk urusan yang berbeda pula. Bila menyangkut masalah pekerjaan atau karir janji mendadak menjadi sebuah hal yang amat sangat penting dan luar biasa berharga walaupun sebenarnya hanya sekadar ngobrol di sebuah lobby hotel atau café bersama calon klien yang belum tentu pasti jadi klien kita, sementara bila janji tersebut berhubungan dengan orang-orang terdekat mereka menjadi the last unimportant people on our waiting list. Padahal kita sudah berjanji berminggu-minggu yang lalu untuk janji tersebut.
Sekitar 15 tahun yang lalu gue pernah dimarahin habis-habisan sama almarhum bokap gue seolah-olah seperti orang nyuri uang 1 M karena dengan sepihak gue ngebatalin janji sama seorang teman yang datang ke rumah sementara gue pergi dengan teman yang lain. Begitu berdampaknya kejadian itu hingga detik ini gue selalu berusaha menepati janji dengan orang lain dan akan berusaha mengabari lebih awal bila harus dibatalkan ataupun akan terlambat.
Sayangnya hal yang terbalik sering terjadi terhadap gue, untungnya gue sabar dan berusaha untuk mengerti. Tapi gue juga gak setolol itu, I always give people unspoken deadline. Sebenarnya deadline itu berlaku untuk diri gue sih, jadi misalkan ada seseorang yang janji sama gue dan selalu batal….finally all I can say is; Ok dehhh, See You Around..!
Tapi yang paling gue benci adalah sebuah kata yang selalu ikut dalam suatu kalimat pengingkaran sebuah janji, which is Sorry. Banyak orang menggunakan kata tersebut tanpa memahami artinya. Gue yakin mereka tahu Sorry itu adalah Bahasa Inggrisnya Maaf, maksud gue saat mereka berkata Maaf atau Sorry sebenarnya mereka sudah berjanji lagi, berjanji untuk tidak mengulangi apapun yang teleh mereka lakukan. Dan ketika mereka melakukan kesalahan yang sama maka mereka telah mengulangi kesalahan tersebut 4(empat) kali lipat. Now, can you forgive such people?
Pada saat itu kita yang dibebankan sebuah kewajiban untuk memafkan. Bisa kah kita memaafkan? Karena bila kita memaafkan mereka berarti sekarang kita yang berjanji, inside apakah kita sudah benar-benar memaafkan? Karena kalau tidak sekarang kita yang mengingkari janji kita. Jadi ribet kan?
Pokoknya kalau gak mau ribet seperti diatas jangan berjanji kalau tidak pasti bisa dipenuhi, dan saat kita tidak bisa memenuhi janji kita batalkan jauh-jauh hari sebelum waktunya. The last but not least, kalo udah minta maaf bener-bener di gak diulangi kesalahannya. Supaya orang tidak kapok janjian sama kita.
Memenuhi sebuah janji adalah unspoken respect and appreciation kita terhadap seseorang. Dalam Islam janji di samakan dengan hutang dan orang yang tidak menepati janji di anggap sebagai orang yang munafik. Sekarang coba tanya deh sama diri kita sendiri, dengan siapa sih kita selalu menepati janji? Dan dengan siapa pula kita selalu mengingkarinya? Atau teman yang mana yang suka seenaknya ngebatalin janji. Dari situ kita bisa tahu orang macam apa yang sangat kita atau teman kita hormati dan orang macam apa yang selalu kita anggap remeh…..

Selamat,selamat,selamat!That’s what we have to do about promises.Sorry is not an excuse.So,what we have to do is…keep the promise and don’t break…even it hard!
No hurt feeling forever yaaaa
Kesamaia said this on May 24, 2006 at 3:58 am
Do you remember what u did to me?
ZZZZ said this on June 16, 2006 at 5:01 am
Setuju Om….
Saya juga pernah tuh janjian sama seseorang. Saya dah tanya dia jam brp bisa nya. Dan akhirnya kita janjian pd jam yg dia ajukan, tapi ternyata dia tak terlambat. Itu pun tanpa info sebelumnya. Kalo tdk saya kontak lbh dl, sy ga tau kalo dia akan tlat. Akhirnya pd saat itu saya tinggal dia …sory deh ..
Heri said this on June 22, 2006 at 12:49 am