Kado Dan Nilai Sebuah Persahabatan
3 bulan terakhir ini banyak bener teman yang Ulang Tahun. Sementara Ulang Tahun gue juga baru bulan kemarin. Seru sih banyak traktiran, sementara gue juga banyak meneraktir orang bulan kemarin. Ada hal yang kadang menggelitik pada saat seseorang akan Ultah adalah sebuah pernyataan atau lebih pasnya dibilang demand atau permintaan atas sebuah benda bernama Kado. Sebagian besar memang hanya sekedar candaan atau omongan yang gak harus dipenuhi tapi ada juga yang mengharuskan, hah? Wajar sih kalau ada yang mau Ultah minta kado cuma kalau maksa gitu apa yang memberikan ikhlas atas kado tersebut?
Kalau kita ingat waktu kita kecil dulu saat ada teman yang Ultah kado is a must, karena kalau gak ngasih bisa-bisa kita diejek sama yang lain atau nanti pas kita Ultah kita gak dikasih kado sama yang dulu mengundang. Makanya walaupun hanya sebatas tiga batang pensil atau dua buah buku tulis sudilah kiranya orang tua kita membungkusnya untuk dijadikan kado, kalau lagi punya uang atau kalau yang Ultah famili dekat pasti isinya akan lebih berharga seperti mainan, tas atau pakaian. Nah kalau sekarang kita sudah bisa cari uang sendiri, beli barang yang kita mau juga bisa sendiri haruskah kita memaksa teman untuk memberikan kita kado? Malu gak sih?
Memang kado bisa menunjukkan apresiasi kita terhadap teman kita tersebut, apapun isinya dan berapapun nilainya tapi ada hal yang kalau kita pahami lebih jauh sebenarnya teman kita tersebut adalah merupakan sebuah kado dalam hidup kita apalagi jika ia adalah orang yang bisa diajak berbagi dalam suka dan duka karena cari teman yang baik itu sulit sementara cari musuh bagaikan membalik telapak tangan. Lalu pantaskah kita menilai sebuah persahabatan dari ada/tidaknya atau nilai sebuah kado? Yah, masing-masing punya jawabannya sendiri tergantung dari sisi mana orang tersebut menilai sebuah persahabatan. Kalau gue, dikasih ya syukur gak ya sudah yang penting gue minta didoain supaya panjang umur, murah rejeki dan selalu bahagia. Karena kita gak tahu doa siapa yang akan dikabulkan dan karena gue percaya dengan kekuatan sebuah doa yang tulus Insya Allah akan datang ratusan kado yang tak ternilai harganya. Amin..

Hi Zaki,
Bagus juga tuh statement loe ttg kado. Memang bener pada saat dah dewasa dan dah bekerja pula tp meminta kado pada temen2 kita. Gak masalah sih kalo temen kita minta kado kita mau kasih. Tergantung masing2 orang memandang arti kado. Bener juga lebih baik pada saat kita ulang tahun banyak temen yg mendoakan kita. Oke deh Zaki gw seneng dg bbrp log yg loe punya. Terus kirim blog loe. Sukses buat loe.
Nelwin said this on July 17, 2006 at 11:43 pm
ghahahaha!!! gw tau ini blogs ditujukan kepada siapa!!!! nyokap yang anak kesayangannya ultah dah make sure zaki dah ngucapin met ultah dan ngingetin bawa kado buat anaknya… duaahhhh kampungan bener sih tuh orang.. hehehe..
ups
hehehe..
kado akan lebih berharga kalau orang yang memberikannya dengan ketulusan dan dengan sepenuh hati….
one day, gw ngegambar wajah salah satu murid ku yang masih SD, aku gambar wajahnya dengan sangat sederhana, lingkaran kecil lingkaran kecil lingkaran besar, dibuat mata, dibuat telinga jadilah wajah… gw special kasih karena dia termasuk anak yang paling rajin.. dan impact yang gw dapat…. bikin gw merinding, terharu bahagia..
” mas alam, sini deh.. si ditho kemarin lari-lari keseluruh rumah mamerin gambaran mas alam, dia bilang ‘ini wajah ditho.. in wajah ditho, mas alam yang gambar soalnya ditho rajin’ teriak2 ke papanya, kekakek nya ke nenek nya, ke pembantu2, ke tetangga2… dan sekarang ditempel di lemari, kalo mau berangkat sekolah ditho pasti nyamperin gambar itu sambil bilang ‘ ditho yang rajin mau berangkat sekolah!!’ mkasih loh mas alam.. anak saya jadi semangat sekolahnya”
hehehe.. padahal gambarnya seadanya banget, cuman gw membuatnya tulus dan anak ini menerimanya dengan polos, kadang kepolosan anak2 bikin yang dewasa2 ini ketampar, bagaimana kita tidak begitu menghargai apa yang telah kita dapatkan….
alam berpelukan said this on July 21, 2006 at 10:48 pm
Gue sendiri kalo ada yg nawarin kado selalu minta sesuatu yg tidak bisa dibeli dengan uang. Kalo bisa yg buatan sendiri
Budaya balas membalas kado memang kadang2 terasa menyebalkan, apalagi kalo kita merasa kurang sreg.
Kardi said this on July 25, 2006 at 1:16 am