Sebuah Permainan Bernama Cinta II
…….And then they live happily ever after, begitulah sebuah kalimat penutup sebagian dongeng klasik yang kita kenal seperti Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty dll. Maksudnya adalah diakhir cerita sang tokoh utama yang dulunya hidup penuh derita atau kutukan menemukan cinta sejati mereka which is a Prince Charming lalu hidup bahagia bersamanya di istana yang megah. Menipu sekali ya? Yah namanya juga dongeng, yang intinya adalah dibalik semua duka yang kita rasakan akan diakhiri oleh kebahagiaan. Tapi menurut gue tetep aja nipu. Permasalahan hidup apalagi cinta gak akan berakhir sampai disitu.
Bagi yang bisa membedakan antara realitas dan dongeng memang masih bisa menerima, lalu bagaimana dengan orang-orang yang hidupnya selalu dipenuhi dengan ekspektasi bahwa suatu hari akan datang seorang Prince Charming atau a Beautiful Princess yang akan membuat mereka bahagia selamanya? Cinderella Complex nama sindrom untuk orang-orang yang mempunyai tendensi pemikiran seperti di atas. Mereka mungkin lupa atau gak tahu bahwa pada saat kita sudah menemukan The Prince Charming or The Beautiful Princess masalah akan selalu ada. Akankah Sang Pangeran akan tetap mencintai kita? Bagaimana kalau Sang Puteri bertemu cinta yang lain?
Cinta harus selalu dijaga, dikembangkan dan diperhatikan. Hanya orang-orang yang naïf yang menganggap kalau kita sudah memiliki seseorang lalu orang tersebut akan selalu mencintai kita. Cinta seperti tanaman yang kalau gak disiram akan mati, seperti hewan piaraan yang kalau gak dikasih makan dan dirawat pasti akan kabur dari rumah. Yang lucunya biasanya si pemilik tanaman atau hewan selalu bertanya ‘kenapa tanamanku mati, kok disebelah tumbuhnya subur?’ atau ‘kenapa Si Manis kabur’? Si Manis kabur karena dia selalu dikasih ‘makan’ di rumah tetangga, selalu dibelai-belai dan diberi kehangatan. Tanaman sebelah tumbuh subur karena selalu disirami dan diberi pupuk! Seperti juga cinta.
Kita menduga bahwa kalau sudah jadi status pacar atau istri itu sudah cukup bagi pasangan kita. Hingga mereka selalu kita jadikan the last person on the list dibawah pekerjaan dan mungkin hobi, ‘toh dia kan udah jadi pacar/istri gue’ kata kita dalam hati. Atau mungkin kita sering membohongi pasangan kita dan selalu menganggap kalau pasangan akan selalu percaya. Salah! Karena manusia, terutama pasangan kita bukan cuma seonggok daging dan tulang, mereka memiliki perasaan dan insting,mereka tetap perlu diperhatikan dan disayangi mereka perlu cinta kita yang konstan yang selalu bisa menempatkan mereka diatas yang lain. Saat kita mulai berubah mereka bisa merasakan perubahan dalam diri kita dan cepat atau lambat cinta mereka pun pudar. Akhirnya mereka meninggalkan kita yang masih terbengong-bengong sambil bertanya ‘Mengapa?’. Happily ever after pun berakhir, sang Puteri Impian kini berada dipelukan yang lain. The fairy tale turns upside down.
Kadang mempertahankan cinta lebih berat daripada mendapatkannya. Kata kata cinta memang mudah diucapkan dan manis didengar, implementasinya yang sulit. Apalah artinya kata-kata yang indah tapi tanpa arti, apalah artinya janji-janji manis kalau tak bisa dipenuhi. Karena sungguh lidah tak bertulang dan karena dunia ini sudah penuh oleh orang-orang merasa cukup hanya dengan berkata-kata. Cinta perlu bukti, bukan cuma janji dan kata-kata……

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.