Rasa Syukur Itu…
Apa sih definisi bahagia menurut diri ‘lo? Uang berlimpah, jabatan ok, pasangan yang memenuhi ‘selera’ kita, atau hal-hal yang lebih simple misalkan saat kita bisa menyelesaikan tugas dengan baik dan cepat atau segelas kopi di hari libur sambil kumpul bersama keluarga? Menurut gue, gue merasa bahagia pada suatu saat dimana pada saat tersebut tak ada setitik masalah melekat dikepala gue, gue merasa free, relax dan nyaman. Gak perduli uang didompet cuma ada 10 ribu. Tapi kayaknya susah ya merasakan kenyamanan itu, karena dalam hidup selalu akan ada masalah.
Kadang gue rindu pada masa lalu, yah sekitar 20-25 tahun kebelakang lah, saat semuanya masih serba sederhana dan simple. Boro-boro HP dan Internet yang memang belum ada, telepon rumah aja masih jarang yang punya, tapi kenapa ya kita bisa hidup lebih tenteram? kenapa kita bisa merasa lebih nyaman dalam keterbatasan tersebut? Kenapa kita bisa bertahan?
Ada rasa nikmat yang tak bisa terucap, ada ketentraman yang tak terkirakan pada saat itu. Saat itu gue lebih bahagia, bahagia dalam keterbatasan, bukannya gue gak bahagia sekarang, dari segi finansial tentu gue lebih mapan dan mandiri, gue bisa beli apa yang gue mau dan mampu tanpa harus minta dari orang lain tapi kenapa selalu ada yang kurang pada saat ini dibanding pada saat itu. Dan gue gak tau itu apa dan gue yakin bukan cuma gue yang merasakan hal ini.
Bukankah seharusnya kita merasa lebih bahagia dengan semua teknologi yang tersedia di dunia sekarang ini? Lalu kenapa kita tak setenteram dan senyaman dulu? Kenapa kita selalu merasa ketinggalan? Dan kenapa kita selalu merasa dikejar sementara tak ada satupun yang mengejar kita. Kita kayak orang gila kalo HP kita ketinggalan, dan bingung banget kalo gak online tiap hari. Apakah materi sudah menjadikan kita budak mereka atau kita sendiri yang telah mendewakan materi?
Gue pernah di’tampar’ dua kali oleh apa yang gue lihat. Suatu hari gue lihat seorang pengemis yang kakinya cacat yang berjalan dengan tangannya tersenyum lebar berjalan menyusuri trotoar, dihari yang lain seorang pengemis wanita di Pasar Baru yang gak punya kaki dan tangan sedang bergoyang dengan gembira sambil mendengarkan dangdut. Ya Allah, betapa beruntungnya gue dan sebagian besar dari kita dengan kesempurnaan fisik ini dibandingkan dengan mereka yang harus ‘melata’ seumur hidupnya, tapi kenapa kita gak bisa bersyukur dengan karunia yang tak ternilai ini? Kenapa kadang kita gak bahagia? Kenapa selalu ada rasa haus dan ketidaknyamanan dalam hidup kita? Kesempurnaan inikah yang membuat kita alpa? Haruskah kita cacat dulu untuk kita bisa menyadarinya?
Kita manusia memang selalu gak bisa puas dengan apa yang dimilikinya, selalu ada yang kurang dan selalu ingin yang lebih. Mata kita selalu melihat ke atas ke gemerlap materi yang membuat kita lupa kalau ada manusia lain yang hidupnya tak seberuntung kita. Kita menganggap remeh apa-apa yang kita miliki, padahal dari kacamata orang lain mungkin apa-apa yang kita miliki adalah barang-barang yang ‘wah’!
Ada moment waktu gue ikut Jambore di SMA yang sepertinya menjadi semacam reminder atas anugerah Tuhan sehari-hari, waktu itu kelas 2 saat itu kita mengalami Jambore Sekolah dengan cuaca yang tidak ramah, di suatu dataran tinggi di Sukabumi yang sudah dingin itu setiap sore hujan turun, dan suatu hari sehabis mandi bareng teman-teman di sungai, hujan turun di tengah jalan menuju tenda, hari hampir gelap setengah basah kuyup kita pun berteduh disebuah rumah penduduk yang hanya terbuat dari bilik bambu, sangat sederhana. Listrik pun gak ada, hanya lampu tempel yang jadi penerang, gue berdiri disamping jendela yang terbuka, saat gue lihat ke dalam hal yang kontradiktif tampak di mata gue; seorang anak muda sedang makan dengan lahap diatas tempat tidurnya, lampu minyak menyala dimeja sebelahnya, terlihat hangat dan nyaman dibanding gue yang sedang kedinginan dan kelaparan. Kesederhanaan yang ada di depan gue itu mendadak menjadi barang mewah dibanding gue yang harus tidur kedinginan di tenda dan bertumpuk-tumpuk dengan teman yang lain. Saat itu rasa kangen pada kamar gue muncul, ada sedikit penyesalan atas keacuhan gue atas apa yang gue miliki. Begitulah kita…
Mudah-mudahan rasa syukur itu gak akan hilang dalam diri kita, mudah-mudahan kita cuma lupa, mudah-mudahan kita gak hanya mengucap syukur saat kita dapat bonus dadakan, atau saat kita nyaris celaka tapi gak jadi. Mudah-mudahan rasa syukur itu akan jadi lebih dari sekedar ucapan, tapi menjadi sebuah apresiasi dalam kehidupan sehari-hari, berusaha menikmati apa yang sudah dimiliki, berusaha melihat kebawah, ke kehidupan orang-orang yang hidupnya jauh lebih susah daripada kita. Mudah-mudahan Tuhan gak harus mengambil apa yang kita miliki supaya kita sadar atas apa yang kita pernah miliki. Amiin..

Kebahagiaan itu buat diriku, saat dimana mensyukuri setiap pemberian TUHAN, berdamai dengan diri sendiri, dan sekitarnya, saat dimana bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan baik, dan sadar, bahwa itu karena pertolongan dari TUHAN.
Senantiasalah Bersyukur,karena kebahagiaan itu datangnya dari Hati, bukan dari Materi…
Have a nice Weekend
-cHoEx- said this on August 12, 2006 at 5:29 am
Belajar itu memang nggak mesti lewat jalur formal, ya Zak..
Apapaun yang kita lihat, kita dengar, kita dengarkan, pengalaman hati, pengalaman emosional..pasti ada yang bisa kita pelajari dan ambil hikmahnya untuk membuat kita lebih dewasa dan bijak..
(wuih emang “sakit dan kecewa hatinya” udah sembuh neh)..hhe hhheee
Iwan said this on August 14, 2006 at 7:49 pm
Kebahagiaan sebenarnya akan terasa apabila hati ini dekat dengan sang Pencipta Allah SWT.
Apa pun yang kita miliki tak akan pernah ada takut kehilangan karena ia adalah titipan.
Kekayaan bukanlah permata yang kau simpan melainkan kebahagian yang disebarkan.
Fisik bukanlah kebanggaan yang ditampakkan melainkan renungan akan penciptaan.
Kemiskinan/masalah bukanlah hal yang ditangisi namun yang harus dijalani-direnungi tuk mencari solusi.
Ansori said this on September 25, 2006 at 3:16 am