Lembur
Based On True Story
Waktu di arlojiku menunjukkan pukul dua lewat limabelas menit saat aku tiba dihalaman parkir gedung tempatku bekerja. Hari itu hari Sabtu. Semestinya aku hanya bekerja sampai jam satu tigapuluh namun karena aku ada meeting di lokasi yang cukup jauh sementara ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga ditambah hari Senin yang merupakan hari libur nasional kuputuskan untuk lembur.
Gedung tempatku bekerja terletak tepat ditepi disebuah jalan yang cukup padat di daerah Jakarta Selatan. Sebuah gedung berbentuk persegi panjang berlantai 4. Lantai satu sebagian digunakan sebagai gudang sebagian lain sebagai ruang tunggu tamu yang dilengkapi meja resepsionis yang setiap harinya dijaga satpam. Lantai dua adalah tempat perusahaanku berkantor, lantai tiga dipakai sebuah travel agent sementara lantai empat masih kosong. Untuk menuju ke setiap lantai ada sebuah lift berukuran kecil yang hanya bisa disi maksimum lima orang.
“Yang lain sudah pada pulang Pak dan lampu-lampunya sudah saya matikan semua!” Sambut Pak Udin, satpam yang bertugas hari itu ketika aku baru membuka pintu masuk.
“Gak apa-apa Pak, saya masih ada kerjaan yang belum beres” Jawabku sambil menekan tombol lift.
Ruanganku yang dilantai dua, berada diujung sebelah kiri gedung. Untuk menuju ke ruangan tersebut, kami-aku dan karyawan yang lain- harus melewati sebuah lorong, disebelah kanan lorong ada beberapa ruang terbuka bersekat setinggi dada diisi meja-meja yang tak terpakai. Diseberangnya ada beberapa ruang berpintu kaca yang berisi lemari-lemari dan beberapa barang yang juga tak terpakai. Ruang itu selalu terkunci.
Sesampainya di lantai dua lampu-lampu dilorong kunyalakan kembali,begitu juga yang ada diruanganku. AC dan PC dimejaku juga kuhidupkan lalu aku tinggal sholat dzuhur. Semua pekerjaanku selesai sekitar jam lima. Selesai shalat ashar baru aku ingat kalau aku belum mengecek email. Ternyata tak ada satupun email penting dari ke empat account email yang aku miliki. Akupun bertambah iseng, kubuka Yahoo Messenger kalau-kalau ada kawan chattingku yang sedang On Line. Ah, ternyata mereka ada. Chat yang kukira akan berlangsung singkat ternyata menjadi panjang. Baru sekitar jam tujuh lewat dan hanya terputus untuk sholat Maghrib obrolan kuakhiri. PC dan AC kumatikan, kubereskan semua barang-barangku lalu terakhir lampu kupadamkan.
Pada saat kubuka pintu ternyata seluruh lampu dilorong hingga yang di depan lift telah padam semua. Aku tak ambil pusing, hanya dengan berbantukan cahaya dari luar aku bisa sampai didepan lift.
Kutekan tombol lift. Tak ada respon. Kutekan lagi. Masih tak ada respon. Lift itu mati. Aku ulangi beberapa kali. Sial! Lift itu tetap mati.
Aku bergegas kembali ke ruanganku untuk menelepon satpam. Seluruh lampu dilorong dan ruanganku kunyalakan kembali. Kutelepon meja satpam. Satu, dua, tiga….hingga deringan kesepuluh tak ada jawaban. Kuulang sekali lagi. Sama.
“Sial!!” Umpatku.
Pikiran-pikiran buruk mulai muncul dibenakku tapi tak lama karena aku lalu ingat kalau ada pintu darurat yang menuju ke semua lantai disamping lift. Setengah berlari tanpa membawa tas aku bergegas kesana untuk melihat apakah pintu darurat itu berfungsi.
“Alhamdulillah!” Ucapku saat aku tahu pintu itu bisa dibuka.
Kembali aku berlari keruanganku untuk mengambil tasku, kupadamkan sekali lagi semua lampu yang ada di ruanganku dan sambil menuju lift lampu-lampu dilorong juga aku padamkan. Ketika aku tiba di depan pintu darurat jantungku berdegup kencang, langkahku terhenti oleh suara lirih pendek seorang perempuan yang seperti mengejek kesialanku datang dari sudut ruangan didekat lift;
“Hi hih….” Suara tawa yang singkat itu membekukan tubuhku.
Seketika darahku terasa berhenti mengalir. Dingin. Bulu kudukku meremang. Rasa takutku memuncak. Aku berlari menuruni anak tangga yang gelap menuju ke lantai satu, aku tak berani menoleh kebelakang untuk melihat apa atau siapa yang tertawa tadi. Ada rasa lega ketika melihat cahaya lampu dari bawah sana. Masih gemetar aku menuju pintu kaca yang membatasiku dengan dunia luar.
Ternyata mimpi burukku belum berakhir; pintu itu terkunci dari luar! Satpam yang bertugas sepertinya sedang makan atau………?? Pikiran-pikiran buruk kembali muncul. Bercampur marah dan rasa takut aku tak berani duduk. Mataku tak lepas memandang ke arah pintu darurat berharap tak ada sesuatu muncul dari sana. Pasrah, aku membaca ayat kursi dan beberapa ayat yang aku hafal untuk membuatku tenang.
Baru setengah jam kemudian Pak Udin kembali. Tergopoh ia membuka pintu sambil meminta maaf.
“Maaf Pak, saya kira bapak sudah pulang makanya lift saya matikan. Sekali lagi maaf ya Pak!” Ucapnya
“Bapak lama menunggu?” Tanyanya lagi.
Aku tersenyum getir berharap Pak Udin tak melihat wajahku yang masih pucat.
“Saya belum lama kok menunggu” Jawabku berbohong.
Akupun tak mau berlama-lama lagi disitu. Masih gemetar aku meninggalkan gedung itu. Sepanjang malam aku tak bisa melupakannya, terutama suara lirih yang menertawakanku. Malam itu menjadi malam Minggu yang paling mencekam dalam hidupku.

Kenapa tawanya HiHihi ??
Kalo HOHOHO berarti sinter klas… ( betul ga sih tulisannya )
Karena zaki gak percaya sinter klas itu ada, makanya ketawanya hihihihi :p
Setan mah ada dimana-mana ? Santai aja lageeee..
Gue juga pernah mengalami, tapi yang gue lihat kain terbang….. Seru abis deh
Tapi anehnya gue gak takut, malah aku terus plototin… sampai kain itu terbang entah kemana. Udah gitu aku cuekin ” Oh… ada yang terbang….” (Krik Krik )
it’s true story lho….
Ansori said this on December 29, 2006 at 8:08 pm
Tenyata kamu penakut juga ya….
EDY said this on January 22, 2007 at 7:40 pm
My Goodness … gilaa seremmm … kantor gue dulu juga sering kejadian begitu tuh
-Agus- said this on February 14, 2007 at 6:43 am
ih,masa ada cerita semenggelikan ini kamu gak crita ke aku sih Zak….
Kesamaia said this on March 10, 2007 at 2:29 am