header image
 

Poligami & Perempuan Indonesia

Poligami lagi, poligami lagi. Karena si AA berpoligami sontak seantero jagad negara ini heboh membahasnya. Pro dan kontra terlontar dari mulut orang biasa maupun public figure. Perempuan-perempuan bertitel selebritis apalagi, dari komentar yang datar,sedang sampai keras mereka utarakan. Ujung-ujungnya sebuah peraturan baru-yang gak penting-akan diundangkan untuk mengatur poligami dan idenya datang dari Presiden kita tercinta Bpk. SBY. Wow! Begitu pentingkah sebuah privilege yang diberikan Allah kepada kaum pria diatur-lagi-oleh manusia? Begitu parahnya kah dampak poligami bagi perempuan-perempuan di negeri ini? Tidak ada kah hal lain yang lebih bisa diberi prioritas untuk dituntaskan selain masalah poligami? Masalah korupsi, kemiskinan, pendidikan, moral kita sudah teratasi dengan sempurna?

Kalau melihat poligami dari sisi duniawi yang jadi kambing hitamnya adalah selalu laki-laki dan yang dirugikan adalah perempuan. Dari kacamata agama gak segampang itu berpoligami. Niat, kecukupan materi dan-yang terberat-kemampuan berlaku adil baik secara jasmaniah dan rohaniah terhadap istri-istrinya jadi syarat utama. Dan yang jadi istri pun gak harus mau dimadu kok, begitu juga yang akan jadi istri kedua. Banyak hal yang harus dipertimbangkan. Kalau gak mau ya minta cerai saja. Serahkanlah pada Allah. Allah Maha tahu mana yang baik atau yang buruk bagi mahlukNya, Allah tahu kalau diakhir zaman ini proporsi laki-laki dan perempuan akan lebih banyak perempuannya bahkan mendekati kiamat nanti proporsi laki-laki dan perempuan 1: 10, Allah pun tahu niat setiap laki-laki yang berpoligami itu Lillahi Taala ataupun Birahi Taala.

Perempuan Indonesia saya akui memang tambah lama tambah maju, dari segi intelektualitasnya maupun eksistensi mereka di bidang PolEkSosBud. Merekapun tambah lantang menyuarakan aspirasi-aspirasi mereka, juga yang menentang ajaran agama, soal RUU APP misalnya. Memang kultur Islam Abangan di Indonesia  sangat kentara. Banyak yang ngaku Islam tapi gak shalat, puasa atau tahu hukum-hukum agama mereka sendiri, perduli pun nggak. Dipengaruhi perkembangan zaman ciri-ciri Islam Abangan pun tambah kuat. Orang yang rajin shalat dibilang sok alim, perempuan yang berjilbab dibilang gak tahu mode, yang rajin ke pengajian dibilang fundamentalis bahkan teroris. Intinya orang-orang yang sangat percaya terhadap ajaran agama mereka dan berusaha menerapkannya dikehidupan mereka sehari-hari dimarjinalkan. Beginilah perempuan-perempuan yang menentangnya memandang poligami; dari kacamata Islam Abangan.

Pernah lihat ada demo perempuan-perempuan yang dipoligami? Yang ribut justru mereka-mereka yang tidak berpoligami atau malah belum menikah. Why? Insecurity terhadap pasangan-pasangan mereka serta ketidakpercayaan dan penafikan terhadap agama mereka sendiri-bagi yang muslim tentunya-. Apakah mereka akan lebih nyenyak tidur bila suami-suami mereka ada dalam pelukan seorang PSK dibanding istri mudanya? Atau mereka lebih rela suami-suami mereka One Night Stand dengan perempuan lain atau memiliki perempuan simpanan dibanding istri kedua yang halal dan sah? Semua kembali kepada sang perempuan.

Poligami akan selau jadi polemik bila kita, terutama perempuan Indonesia tak bisa ikhlas menerima keistimewaan Allah kepada laki-laki untuk berpoligami. Poligami memang hak seorang pria muslim tapi bukan hak yang buta, tapi hak yang menuntut pemenuhan kewajiban yang adil dan optimal kepada istri-istrinya. Sementara buat sang perempuan, di poligami adalah sebuah pilihan, pilihan untuk lepas dan menuntut hak individualnya atau memenuhi kewajiban untuk berbakti kepada Rabb dan suaminya.

~ by 8129 on December 5, 2006.

5 Responses to “Poligami & Perempuan Indonesia”

  1. wah gue kepancing ikut komentar jadinya..
    betul sekali zak..menurut saya kalau mau menerima islam, ya harus khafah nggak pake reserved..yang mengerikan adalah seolah-olah kita lebih paham dibandingkan dengan yang mewahyukan Al-Quran..kalau emang keberatan dengan isi Al-quran yang menghalalkan poligami, demo atau suratin saja yang bikin Al_Quran..naudzu bilah..!!!.

    Coba liat deh, yang menjadi masalah adalah ketika suami berpoligami terkadang tida “adil”, ya sudah yang diatur, yang diributin itu sajah..bikin aturan supaya suami yang berpoligami bisa adil..setidaknya masing-masing pihak bisa hidup tenanng…bukannya malahan seolah-olah menggugat isi Kitabullah….udah pada sok pinter..istighfar deh..

  2. menurut gw sih penolakan thd poligami bukan cuma kesalahan perempuan saja. banyak juga laki2 yang seenaknya berpoligami. kadang2 malah minta duit ama istrinya buat kawin lagi. jadi ga bisa dilihat sebagai masalah sepihak sebagai ketidakikhlasan perempuan semata terhadap hukum agama. laki2nya juga harus ngaca, sudah sejauh mana dia menegakkan hukum agama. ga bisa istri doang yg dituntut menjadi istri yang sholehah dan berbakti sementara sang suami seenaknya.

  3. Gak ada yang tahu mana yang bener dan mana yang salah melebihi Yang Maha Kuasa..

    Kalo emng itu adalah yang terbaik buat dia, silahkan aja.. gak usah menghujat, karena biar Yang Maha Kuasa nanti memberitahukan bahwa apa yg dia lakukan itu salah atau benar..

    Setiap manusia punya hal pribadi dia untuk melangkah di kehidupan dia sendiri, stop judging!!!

    Asal, ketika melangkah pikirkan lah akibat yang akan terjadi, apalagi yang akan dirasakan orang2 yang kita sayangi…. lepas ego dan ke angkuhan, terutama untuk orang yang kita sayangi, masa bodo ma org yg sok kenal dan sok dekat dan sok tahu ttg kehidupan kita…

  4. Selama laki laki yang jadi sentral masih hidup mungkin gak ada masalah…tapi setelah dia mati dulu…monggo liat realitanya….?

  5. Dengan segala keterbatasan yang ada; gw sih setuju sama poligami …

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.