Pembunuh Bayaran
Agak ragu Pak Bowo memutar sebaris nomor telepon yang tercantum disebuah kertas kecil ditangannya. Nomor itu baru didapat pria setengah baya itu siang tadi dari salah satu teman pengacaranya. Belasan kali ia batalkan menelepon si empunya nomor karena keraguannya.
Dikantornya yang cukup megah dikawasan segitiga emas Ia menunggu hingga semua staffnya pulang hingga ia bisa leluasa menelepon orang tersebut. Resiko besar tepikir dibenaknya, tapi desakan kebutuhan pun tak terelakkan lagi. Akhirnya dia berani memutuskan. Nomor itu kembali diputar melalui telepon genggamnya. Hanya butuh beberapa detik ia pun tersambung.
“Halo!” Suara seorang pria terdengar di seberang jaringan.
“Ha..halo!” Pak Bowo menjawab gugup “Saya Bowo saya ingin menyewa anda. Saya dapat nomor anda da…”
Ucapannya disela.
“Anda hubungi saya lagi! Tapi jangan sembunyikan nomor anda” Kata pria itu tegas lalu telepon diputusnya.
Pak Bowo tertegun ragu. Ia cukup terkejut karena suara si pria itu tak seseram yang dibayangkannya. Keberaniannya muncul kembali. Setting telepon genggamnya diubah hingga orang yang ditelepon dapat melihat nomornya.
“Halo! Saya Bowo yang barusan menelepon anda, saya ingin menyewa keahlian anda. Saya ingin anda membereskan seseorang!” Pak Bowo berkata mantap.
“Baik!” Jawab lelaki itu yang lalu terdiam sebentar. “Saya tunggu anda dipinggir gerbang tol Jagorawi jam 11 malam ini untuk membicarakan detailnya. Sediakan data-data orang yang anda ingin bereskan berikut fee saya duaratus juta, tunai!”
“Tunggu! Tak bisakah anda ke kantor saya saja?” Tanya Pak Bowo “Tak ada siapa-siapa disini selain saya.”
“Maaf, terlalu riskan. Digerbang tol Jagorawi atau batal!” Jawab si Pria
“Oke..oke..” Pak Bowo mengalah “Tapi bagaimana saya mengenali anda?”
“Saya yang akan mendatangi anda!” Jawab si Pria lagi “Berikan nomor mobil anda, datang sendiri dan tepat waktu. Lewat satu menit saya anggap batal!”
Pak Bowo mengiyakan lalu memberikan nomor seri mobil yang akan dikendarainya ke sana. Pembicaraan selesai.
Ia lalu menyiapkan uang dua ratus juta yang jadi ongkos kerja si pembunuh bayaran dan berkas-berkas yang berisi alamat tinggal, kantor data penting lain berikut foto calon korban. Ia tersenyum sinis melihat foto itu.
“Beberapa hari lagi kau akan jadi mayat” Katanya dalam hati sambil tersenyum.
Sudah begitu lama ia menaruh dendam terhadap Hendro, si calon korban. Rival bisnis kontraktor bangunan yang digelutinya. Begitu banyak tender-tendernya yang direbut lewat jalan belakang oleh Hendro. Kali ini ia sudah tak bisa lagi menerima, sebelum perusahaan Hendro ikut proses tender Pak Bowo berniat memotong jalan dengan cara menghabisi nyawa Hendro terlebih dahulu. Tender ini begitu penting baginya, jumlahnya yang luar biasa besar membuat Pak Bowo mau tak mau harus mengikuti cara kasar Hendro. Dua ratus juta hanyalah biaya ringan demi mencapai keuntungannya nanti.
“Hanya satu kali dan kau akan lenyap selamanya!” Pak Bowo tersenyum meyakinkan dirinya sendiri.
Jam sepuluh tepat Pak Bowo berangkat, hanya butuh tigapuluh menit waktu yang ia tempuh untuk menuju lokasi. Hujan lebat beserta petir menemani penantiannya menunggu si pembunuh bayaran. Ketegangan memuncak.
Tepat jam sebelas, ia mendengar kaca pintu penumpang mobilnya diketuk. Central lock dibukanya. Pria itu masuk dibangku penumpang belakang.
Pak Bowo memperhatikannya samara-samar, pria itu memakai jas hujan hitam, topi yang juga berwarna hitam. Sarung tangan menutupi kedua tangannya Wajahnya seperti manusia-manusia normal lainnya, tak ada kesan pencabut nyawa diwajahnya.
“Jalan!” Perintahnya.
Tak banyak bertanya, mesin mobil ia hidupkan lalu melaju memasuki jalan tol.
Tak ada percakapan diantara mereka hingga dua puluh menit kemudian.
“Berkas-berkasnya ada di amplop di dekat anda.” Kata Pak Bowo memecah kesunyian.
Tak menjawab pria itu lalu membuka sebuah amplop yang tergeletak disisinya. Sebuah senter kecil ia gunakan untuk membaca dalam gelap.
“Saya ingin tampak seperti kecelakaan atau perampokan” Kata Pak Bowo lagi “Uangnya ada di bawah bangku”.
“Hmm” Jawab si pembunuh bayaran.
“Berhenti disini” Katanya lagi tak lama kemudian.
Semak-semak lebat menutupi tepi jalan tempat Pak Bowo menghentikan mobilnya, jalanan sudah cukup sepi saat itu. Hanya beberapa bis dan truk besar yang masih terlihat berlalu-lalang. Hujan masih lebat.
Si pembunuh bayaran menggeser duduknya ke belakang kursi pengemudi lalu meraba bawah bangku tempatnya duduk dan mendapati sebuah bungkusan besar yang ia yakini uang ongkos kerjanya.
Diintipnya isi bungkusan itu. Ia tersenyum.
Pandangan mata mereka beradu melalui kaca spion, lampu mobil dari arah berlawanan kadang menerangi wajah pria itu. Kesan seram pria itu baru tampak dimata Pak Bowo.
“Anda hapus nomor telepon saya dari Handphone anda!” Perintah pria itu.
Pak Bowo mengangguk lalu mengerjakannya.
“Bagus!” Jawab si pria.
“Saya ingin ia dibereskan sebelum akhir minggu ini.” Kata Pak Bowo lagi.
Pria itu tak menjawab, tapi matanya tak lepas dari mata Pak Bowo.
“Sepertinya tidak bisa” Jawabnya setelah beberapa detik kemudian.
“Tidak..tidak, harus!” Pak Bowo berusaha tegas.
“Bukan soal waktunya” Jawab pria itu lagi ”Saya tidak bisa membunuh Hendro”
“Apa? Sudah sampai disini anda baru bilang tidak bisa” Pak Bowo kesal.
Bibir pembunuh bayaran itu mendekat ke belakang telinga Pak Bowo
“Hendro datang kepada saya lebih dahulu minggu lalu meminta saya menghabisi anda. Ia dapat bocoran bahwa andalah yang akan memenangkan tender kali ini. Hendro tak mau itu terjadi.” Jawabnya sambil mengeluarkan sesuatu lalu mengarahkannya ke bagian kepala bangku Pak Bowo.
“Dan saya sudah mengiyakannya” Lanjutnya “Anda adalah mangsa yang datang ke pemburunya”.
Pak Bowo terbelalak dan berusaha membuka pintu mobil tapi tangan si pembunuh dengan sigap mencengkeram leher pria itu.
“Selamat malam dan terima kasih!” Bisik si pria ketelinga Pak Bowo yang masih meronta-ronta.
Bunyi letupan kecil terdengar.
Peluru menembus bangku dan kepala pria setengah baya itu. Darah segar berhambur membasahi dashboard dan kaca depan. Pak Bowo tewas seketika. Matanya masih membelalak ke arah ke kaca spion.
Dompet, handphone, cincin dan jam tangan Pak Bowo dilucuti sang pembunuh bayaran, dimasukkannya ke dalam bungkusan yang berisi uang lalu menyimpannya kedalam kantong jas hujan. Ia lalu menyeberangi jalan tol. Sebuah mobil telah menantinya.
Malam bertambah larut. Hujan terus turun hingga dini hari.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.