Pengakuan
Based on ACTUAL EVENT, but NOT A TRUE STORY.
Malam begitu dingin di sebuah rumah di luar kota Bekasi tapi Budi begitu gelisah duduk di beranda rumahnya. Wajah istrinya terbayang di benaknya walaupun baru setengah jam yang lalu ia menelepon.
Budi merasa begitu berdosa, ia merasa telah menghianati istrinya. Mendengarkan suara istrinya tadi lewat telepon mengingatkannya kembali pada pengkhianatan-pengkhianatannya. Sudah hampir setahun ia di tinggal istrinya meneruskan studi di Jepang. Rasa sepi yang sering datang terlalu berat bagi seorang laki-laki di pertengahan tigapuluh yang cukup menarik seperti dirinya. Godaan sering datang dalam berbagai sudut;tetangga-tetangga wanita yang satu komplek kontrakan dengannya sepertinya tak mau berhenti meliriknya terutama seorang janda muda bernama Ami yang tinggal di pojok, selalu saja ada pujian dari mulut perempuan itu yang selalu dimulai dengan pertanyaan mengenai istrinya yang selalu berujung kearah ajakan menemaninya tidur. Di tempatnya bekerja pun godaan juga ada, tapi lebih kompleks lagi! Kali ini tidak hanya wanita, pria pun juga! Sering ia diikuti salah satu staff seniornya yang sering ‘mencontek’ dirinya saat sedang pipis. Pusing!
Seks bagi pria dewasa yang telah menikah memang sesuatu kebutuhan yang penting tapi Budi adalah laki-laki jujur yang tak semudah itu digoda, ia adalah seorang yang setia dan tahan godaan dari siapapun. Ia begitu cinta pada istrinya hingga tak bisa membaginya untuk orang lain. Namun, sejak dua bulan lalu ia kalah, sesuatu terjadi yang membuatnya lupa diri dan mengkhianatinya.
Hal inilah yang membuat Budi begitu resah, tadi ia berencana mengaku saat istrinya menelepon tapi lidahnya terasa tertahan, pengakuan itu tak bisa dia ucapkan. Ia benar-benar tak kuat, ia harus mengaku pada istrinya.
Sesuatu terpikir olehnya. Email.
Segala resikopun rela ditanggungnya, dengan gemetar tangannya mulai menari diatas keyboard notebooknya.
Istriku tercinta,
Mungkin kau akan terkejut saat membaca suratku ini. Tapi aku telah siap menghadapinya, karena aku merasa sangat bersalah dan lemah. Kuharap kau memaafkanku dan mengerti, hanya itu yang kuharap darimu. Aku tak berani mengatakan ini ditelepon,takut kau kecewa dan mengganggu studimu.
Sejak dua bulan yang lalu aku tak bisa menahannya, aku begitu merindukanmu, aku rindu kebersamaan kita. Sayang, aku telah melakukannya, tapi jujur semuanya tak senikmat saat melakukannya denganmu, tapi percayalah kau ada dikepalaku saatku melakukannya. Aku bayangkan tubuhmu dan semua gerakan-gerakanmu, dan semua kebiasaan-kebiasaanmu saat kita sedang bercinta dan saat aku mencapai klimaks namamulah yang kusebut, aku tak perduli didengar para tetangga yang pasti mereka tak tahu perbuatanku apalagi anak-anak kita…..
Begitulah cuplikan email Budi utuk istrinya diakhiri dengan kata "Love You Always-Budi". Perasaan Budi menjadi lega, tak lama ia pun tidur dengan nyenyak.
Pagi itu ia lebih bersemangat berangkat bekerja, bebannya terasa diangkat dan tubuhnya lebih ringan.
Baru sehabis makan siang ia mendapat email jawaban dari istrinya, dengan berdebar-debar ia membacanya dengan seksama kata demi kata,
Mas Budi cintaku,
Aku mengerti segala hasrat dan nafsumu, aku pun rindu tubuh dan cintamu tapi aku wanita, aku masih bisa menahannya. Aku tahu pria lebih butuh seks dari wanita. Aku harap kau tak terlalu sering melakukannya aku ingin kau hanya jadi milikku seutuhnya. Aku jauh disini dan masih lebih dari enam bulan lagi kita bisa berkumpul, aku hanya bisa memberikan pengertianku, awalnya aku terkejut dan kecewa kepadamu karena kau tak sekuat harapanku tapi setelah kupikir-pikir memang hanya masturbasi jalanmu satu-satunya untuk melepaskan kerinduanmu kepadaku dan kuharap hanya ada diriku dalam pikiranmu selalu saat kau melakukannya. Namun ingat sekali lagi; jangan terlalu sering!
Mas, jangan lupa menyimpan Minyak Telon yang cukup dirumah karena Minyak Telon yang kau gunakan untuk Masturbasi itu adalah Minyak Telon yang selalu ku baluri ke Iwan saat dia rewel, dan ingat hanya merek Cita, hanya merek itu yang mau dipakainya dan itupun hanya ada di apotik dekat pasar. Jangan lupa ya mas.
Kekasihmu selalu-Hanna.
Budi tersenyum.

it’s alright, it’s alright, it’s alright.gak ada rotan akarpun jadi ..gitu kan zak maksudmu?
What a story…..:-p
Kesamaia said this on June 4, 2007 at 1:58 am