header image
 

Ayam Kampus

Erni merapikan bajunya sekali lagi didepan cermin sebelum  ia meninggalkan kamar hotel seorang Oom yang baru memakainya. Lelaki paruh baya itu sedang mengeringkan badannya selesai mandi. Uang tujuhratus limapuluh ribu rupiah itu tergeletak dimeja sebagai bayaran jasa short time yang telah dilaksanakannya masih belum dimasukkan ke dompetnya.

“Makasih ya Oom Firman!” Ucap Erni sebelum meninggalkan kamar itu. “Kontek-kontek ya kalau perlu Erni lagi!”

Lelaki itu tersenyum sambil mendekati lalu mengecup bibir Erni.

“Pasti lah!” Jawabnya “ Nomor HP ku jangan kau buang ya! Kalau Oom kangen pasti kamu Oom telepon. Ok?”

“Selamat sore Oom!” Erni tersenyum sambil meninggalkan kamar.

Sudah dua tahun Erni berprofesi sambilan sebagai seorang PSK, pekerjaan yang tak disangka akan dinikmatinya. Uang yang dihasilkannya digunakannya untuk keperluan kuliahnya yang sudah memasuki semester enam dan juga keperluannya yang lain. Orang tuanya di Bogor yang sudah hampir tak sanggup membiayainya tak pernah tahu bahwa Ia melakukan pekerjaan itu.

Rasa malu sudah tidak ada dalam diri Erni walau pada awal-awalnya rasa itu sangat membebani. Harga dirinya dibuang jauh-jauh saat pertama kali ia menjalani profesinya. Tiga juta rupiah uang yang ia pertama kali terima untuk keperawanannya yang ia serahkan kepada seorang lelaki gendut berusia enam puluh tahun. Jijik, hina dan dosa menghantuinya kala itu tapi lambat laun semua rasa itu hilang, kini ada dalam pikirannya hanya usahanya memenuhi kebutuhan hidup terutama kuliahnya dan ia selalu berusaha menikmati pekerjaannya itu.

Erni pun sangat pemilih dalam menerima job, ia hanya mau menerima pelanggan yang berusia empat puluh tahun ke atas. Itu ia lakukan karena ia tak mau ambil resiko ketahuan bila salah satu pelangannya itu adalah mahasiswa di kampusnya. Ia menawarkan jasanya itu melalui iklan di sebuah koran Jakarta berselubung pijat untuk eksekutif.

Erni sampai di lobby, handphonenya berdering.

“Iya say..?” Jawabnya saat menerima telepon itu.

“Kamu kemana aja sih? HP kamu tidak aktif dari tadi” Kata suara seorang pria diseberang jaringan.

“Battery ku low batt hun, baru aku charge. Aku baru sampai kos.” Jawab Erni berbohong

“Ya sudah gak apa-apa.” Jawab pria itu. ”Nanti malam aku jemput setengah tujuh ya!”

“Ok. Aku harus pakai sesuatu yang khusus gak?” Tanya Erni.

“Gak usah my dear, yang biasa aja lah. Kamu sudah cantik kok!” Balas pria itu lalu tertawa.

“Gombal!” Jawab Erni yang juga diakhiri dengan tawa. “Udah dulu ya say aku mau mandi dulu, see you tonight honey! Mmuach..!”

Erni lalu meninggalkan hotel itu dengan sebuah taksi.

Erni tersenyum, terbayang wajah pacarnya Ardi; pria yang baru meneleponnya itu. Ardi berusia tujuh tahun lebih tua darinya, Ia bekerja sebagai senior marketing disebuah perusahaan telekomunikasi besar di Jakarta. Ardi memang tidak terlalu tampan menurut Erni, tapi perhatian, kesabaran dan kemapanan Ardi berhasil meluluhkan hatinya. Mereka sudah hampir dua tahun berpacaran. Malam ini Ardi akan mengenalkan Erni kepada kedua orangtuanya.

Tepat jam setengah tujuh Ardi sampai di tempat kos Erni. Tak lama keduanya berangkat menuju rumah orang tua Ardi.

“Kamu nervous gak say?” Tanya Ardi di mobil sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.

“Biasa aja.” Jawab Erni ”Asal Ibu Bapak kamu gak nanya yang macam-macam aja nanti.”

“Gak lah, mereka baik kok” Balas Ardi sambil tersenyum“ Apalagi melihat calon menantunya cantik seperti ini.”

“Menantu? Yakin?” Balas Erni bercanda.

Keduanya tertawa.

Erni sebenarnya sedikit gugup tapi bila dibandingkan dengan profesinya sehari-hari, ini bukanlah apa-apa. Selama bisa bersikap baik dan sopan Ia yakin kedua orang tua Ardi akan menyukainya.

Saat sampai di rumah orang tua Ardi, Ibunda Ardi menyambut mereka dengan hangat saat membukakan pintu.

“Ah, kamu memang secantik yang diceritakan Ardi!” Kata Ibunda Ardi memuji sambil memeluk Erni.

“Terima kasih tante!” Erni tersenyum.

“Sebentar ya, Papanya Ardi masih berpakaian. Ia baru kembali, dia dari luar kota pagi tadi.” Tambah Ibunda Ardi.

Mereka pun mengobrol bertiga diruang tamu, mata Ibunda Ardi tak henti-henti melirik gadis yang mungkin akan jadi menantunya itu. Tak lama Ayah Ardi keluar dari arah belakang tempat mereka duduk.

“Pa!” Sambut Ardi sambil berdiri.

Erni pun berdiri dan membalik badan untuk melihat ayah Ardi.

Ayah Ardi dan Erni terkejut saat melihat satu sama lain. Darah ditubuh Erni seketika berhenti mengalir. Jantungnya berdetak kencang. Mulutnya tak sengaja berucap;

“Oom Firman?”

~ by 8129 on July 7, 2007.

9 Responses to “Ayam Kampus”

  1. hahaha….

    ceritanya keren!!
    ^_^ v

  2. anjing cerita nya anjing

  3. sbnrny c crita’a dah bsa dtebak,,,,,tpi keren jga koq….tyuz semangat tuk buat cerita2 yg keren….kiki

  4. bull shit

  5. BASIIII,…..

  6. the story..hmmm.. its ok
    but how to tell the story by your words..totally brilliant!
    welldone Zak!

  7. kena batunya kaaaan?

  8. he..he..he… bisa aja nih critanya :D

  9. hahahahhaha…salute

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.