header image
 

Fenomena Orang Ketiga; Antara Harapan dan Kenyataan

Banyak diantara kita pasti pernah pada suatu saat kita lagi asik-asik pacaran atau menikah setelah sekian tahun dengan seseorang digoda sebuah pilihan lain dihadapan kita. Mau di cuekin tapi pilihan tersebut terlalu menarik untuk dilewatkan, sementara untuk mutusin pacar yang lagi jalan, kita ternyata masih sayang sama dia. Jadilah si pilihan baru tersebut seorang WIL atau PIL; orang ketiga.

Bagi kita yang menduakan pacar/istri/suami, WIL/PIL itu mungkin hanyalah selingan yang ada untuk menghilangkan kejenuhan terhadap pacar/istri/suami, posisinya tetap aja dibawah pasangan yang ada sekarang, walau ada juga sampai terhanyut dan menjadikan mereka istri kedua tapi pernahkah kita memikirkan apa yang ada dipikirkan WIL/PIL kita terhadap kita? Siapakah kita bagi mereka? Apa yang mereka harapkan dari kita?

Cinta itu buta apalagi bagi seseorang yang jadi seorang WIL/PIL orang yang sudah beristri/suami. Status orang tersebut lenyap ditelan bumi, gak perduli berapa lama dia sudah menikah dan berapa anak yang sudah dimilikinya yang penting kebersamaan walaupun singkat dan terbatas bisa mereka reguk, apalagi diawal-awal pertemuan. Bagi WIL/PIL yang ngerti, mereka akan sadar atas posisi mereka yang dibawah angin, tapi bagi yang awam? Nafsu yang awalnya jadi tujuan utama mereka berubah jadi cinta, rasa haus akan kasih sayang dari pasangan bertambah, lalu ingin punya status yang lebih jelas lagi sementara pacar/istri/suami orang itu tak bisa memberikan lebih bagi mereka. Sedih.

Secara gender pria selalu jadi kambing hitam pada masalah seperti ini dan wanita adalah korbannya, seolah-olah si wanita diterkam dari belakang dan tak bisa melakukan apa-apa. Tapi kalau jadi korban kok lanjut ya? Si wanita rata-rata sadar kok bahwa yang sedang mendekatinya adalah pacar/suami orang tapi somehow mereka tetap saja menjalin hubungan gelap itu. Lalu siapa sih yang pantas disalahkan dalam suatu hubungan gelap seperti ini? Si WIL/PIL atau orang yang sudah berpasangan itu? Kondisinya hampir sama seperti menanyakan mana diantara ayam atau telur yang lebih dulu ada, sangat subjektif. Ada yang menilai WIL/PIL lah yang salah, argumennya ;“ Sudah tahu orang sudah bersuami/beristri masih aja di dekati”, tapi bagi yang lain mereka beranggapan si Istri/Suami orang itulah yang salah.  Kata mereka “Sudah punya suami/istri kok masih aja cari yang lain.” Kedua pendapat tadi sama-sama benar, tapi bagi mereka yang menjalaninya mereka tidak ambil pusing.  Untuk sesaat dunia milik mereka berdua.

Kita memang gak bisa memilih akan jatuh cinta sama siapa, dimana dan kapan, tapi kita harus bisa memahami keinginan kita dimasa yang akan datang, saat kita jatuh cinta pada pacar/istri/suami orang sebaiknya kita bertanya pada diri kita sendiri; apa yang akan kita dapat dari hubungan ini? Kalau kita memang hanya mengejar nafsu dan bisa mengesampingkan cinta, silahkan jalani! Tapi bagi yang masih mengharap cinta, pikir-pikir seribu kali dulu deh. Mungkin dia akan berjanji setia pada kita, tapi ingat janjinya adalah janji diatas ingkar, pengingkaran kesetiaannya terhadap pasangannya yang sudah dimilikinya.

Nah, sama pasangan yang sah aja masih ingkar apalagi sama kita? Pikir baik-baik deh!

~ by 8129 on July 7, 2007.

3 Responses to “Fenomena Orang Ketiga; Antara Harapan dan Kenyataan”

  1. saya juga sedang terjebak dengan cinta suami orang yang amat panjang ceritanya..kadang-kadang pemikiran kita ngak bisa melewati kuasa tuhan yang maha esa..tidak ada insan yang berasa senang dan tetawa terus dengan situasi cinta suami orang.percayalah.kami juga menderita seadanya

  2. saya rasa nggak akan ada orang yang mau menjadi orang ketiga. pastinya akan ada salah satu yang lelah berlari dan akhirnya menyerah. dan itu aku… (sorrow banget seh..) that’s life. Orang ketiga gak akan pernah punya tempat dimanapun… kapanpun. dan aku sadar banget akan konsekwensi tersebut.. Dan aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya

  3. Hello. :)

    “The birth took place at the couple’s home (just outside Oslo),” says the palace, adding mother and baby were both well.
    Bye.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.