header image
 

62 Tahun Merdeka, Indonesia Salah Satu Negara Kaya Termiskin Di Dunia

Kontradiktif judulnya? Memang! Begitulah kondisi Negara kita, Kaya akan hasil bumi tapi penduduknya banyak yang miskin. Balita mengamen di lampu merah sudah jadi hal biasa, kalau kita naik bis kota pengamennya sudah seperti audisi Indonesian Idol, mengantri di bangku belakang menunggu pengamen lain selesai ‘manggung’.

Kalau dibandingkan dengan umur manusia, usia 62 tahun adalah usia seorang kakek atau nenek yang biasanya pada umur tersebut sudah mendapatkan kematangan mental, spiritual dan biasanya finansial. Memang umur suatu Negara memang tidak bisa dibandingkan dengan manusia, hanya sebagai sebuah perumpamaan saja.  Di negara ini kemampanan sosial, spiritual  apalagi finasial hanya baru bisa dimiliki segelintir orang. Hak warga Negara untuk bisa mendapatkan sesuatu yang jadi kewajiban Negara ini untuk menyediakannya sampai detik ini hanya sedikit yang terpenuhi. Hak hak mereka terrampas-namun sepertinya didiamkan-oleh tangan-tangan rakus koruptor yang ada di lingkungan kenegaraan.

Dulu Negara kita dikenal sebagai Jamrud Khatulistiwa karena kekayaan alamnya yang melimpah sekarang kita terkenal sebagai Negara jawara korupsi global. Kekayaan alam yang semestinya bisa menghidupi seluruh rakyat negeri ini atau setidaknya memberikan fasilitas-fasilitas yang mereka perlukan raib entah kemana. Selalu  ada tersangka tapi tak pernah tertuntaskan, selalu ada wacana tapi tak pernah ada tindakan. Begitu rakuskah segelintir orang di negara ini sampai sampai tega memakan ‘jatah’ saudaranya sendiri? Begitu hebatkah mereka sehingga tak merasa mata Tuhan selalu mengawasi?

Saat Hedonisme jadi gaya hidup sebagian besar pejabat kita, maka rakyatlah jadi sapi perahan, APBN dan APBD membengkak untuk menunjang gaya hidup pejabat sementara subsidi untuk rakyat didiskon. Saat banyak balita menangis dan meregang nyawa karena busung lapar sang wakil rakyat ngotot minta Notebook seharga 25 jutaan untuk menunjang tugas mereka yaitu tidur dan bolos saat sidang, lain waktu disaat konstituen mereka menjerit karena harga beras melonjak mereka ikutan menjerit meminta kenaikan tunjangan hidup. Salut buat ketidakpedulian mereka!

Sudah sejak dulu rakyat dinegara ini selalu jadi objek barang dagangan politik dan dijadikan anak tangga menuju sebuah jabatan. Berkoar-koar mendendangkan janji-janji surga saat berkampanye, selalu mendekati rakyat sebelum suatu pemilihan-apapun itu- setelah terpilih rakyat hanya akan disambangi saat ada acara-acara tertentu atau saat mereka sedang tertimpa musibah. Kasihan!

Bicara soal musibah, entah kenapa 10 tahun terakhir ini musibah jadi semacam rutinitas yang makin sering berulang di Negara ini, mulai dari gempa bumi yang mendatangkan tsunami, tanah longsor, banjir angin puting beliung, kecelakaan tranportasi, dll sampai-sampai penyakit anyar seperti Flu Burung pun betah bercokol ditanah ini. Apakah tanda Tuhan sudah mulai BT sama kita?  Muak melihat ketimpangan sosial luar biasa dinegeri tercinta ini, muak melihat hukum yang sangat bisa menjamah manusia-manusia lemah tapi tak kuasa saat menyentuh mereka-mereka yang berkuasa, muak melihat umatnya tak bisa mendapatkan hak-hak  mereka, muak melihat anak-anak yang dibiarkan terlantar oleh Negara.

Sampai kapan Negara kita akan tetap begini? Kapan majunya kita? Kapan merdekanya kita dari kemiskinan dan kebodohan? Negara kecil miskin sumberdaya alam seperti Singapura sudah jadi raja di Asia. Sementara kita yang kaya raya harus mengemis-ngemis pinjaman di Bank Dunia. Posisi kita hampir sama dengan Kamboja dan Vietnam yang baru 30 tahunan merdeka dan  hanya sedikit diatas beberapa Negara Afrika yang selalu diterpa perang saudara.

Perlu berapa peringatan lagikah agar pemimpin negeri ini sadar? Bencana sekaliber Gempa Aceh 2004? Kerusuhan yang lebih parah dari yang terjadi tahun 1998? Atau mungkin Revolusi yang sekeras Revolusi Perancis lengkap dengan Guillotine dan Keranjang tempat menaruh kepala para pejabat yang habis dipenggal?

Kita memang terdaftar sebagai sebuah Negara yang merdeka di PBB, tapi sebagian besar rakyat ini masih terjajah, terjajah ketidakadilan, kemiskinan, kebodohan, ketamakan dan penindasan. Mudah-mudahan Negara ini bisa berubah, mudah-mudahan kita bisa belajar, memperbaiki diri dan berkembang jadi bangsa yang maju, mudah-mudahan rakyat kita akan selalu sabar atas semua ujian, cobaan dan segala macam ketidakadilan yang masih  merangkul mereka. Mudah-mudahan pula Tuhan masih mau mengampuni Kita. Vox Populi Vox Dei, Suara Rakyat Adalah Suara Tuhan, mudah-mudahan suara rakyat kecil masih mau didengar petinggi-petinggi kita, bukan suara Tuhan langsung yang bisa seketika meluluhlantakkan negeri ini.

~ by 8129 on August 4, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.