header image
 

Angkot Terakhir

Joko tak tahu berapa lama ia pingsan. Yang terakhir ia ingat hanya saat diri dan motornya terlempar ketika ditabrak kendaraan yang ia yakini adalah sebuah truk. Ia tak merasakan sakit apapun ditubuhnya, ia hanya merasa sedikit melayang dan gemetar. Motornya ringsek berat tergeletak dibawah sebuah pohon besar dekat tempatnya terlempar.

Joko baru saja pulang dari rumah dosen pembimbingnya disebuah daerah di Cibubur, mendiskusikan skripsinya, saat pulang ia tersesat dan jalan desa yang berkelok membuatnya terhalang dari mata seorang supir truk dan menabraknya. Supir itu kabur ketakutan, jalan yang sepi dan gelap dan letak kejadian yang terpencil membuat sang supir nekat melarikan diri.

Joko yang masih limbung berdiri ditepi jalan itu menanti kalau-kalau ada mobil atau tukang ojek yang bisa membawanya ke bengkel atau klinik terdekat. Bunyi katak dan serangga malam begitu jelas terdengar disitu, pepohonan yang rindang membuat tempat itu bertambah gelap dan menyeramkan. Lampu rumah penduduk terlihat begitu jauh dan temaram. Joko khawatir meninggalkan motornya.

Joko bersemangat ketika dilihatnya cahaya dari ujung kelokan menuju kearahnya. Sebuah mobil box. Ketika sudah dekat Joko melambai-lambaikan tangannya agar kendaraan tersebut berhenti. Mobil itu terus berjalan, pengemudinya tak sedikitpun menoleh. Tak lama sebuah motor juga lewat, tapi hal yang sama terjadi. Motor tersebut juga tak berhenti. Joko kesal dan berteriak-teriak. Namun motor tersebut terus saja melaju.

Angin berhembus. Joko mulai merasakan hal-hal aneh. Kadang ia seperti mendengar suara-suara dari arah pepohonan diseberang tempatnya berdiri. Beberapa kali seperti ada bayangan hitam berkelebat. Joko ketakutan. Ia lalu memutuskan untuk menyusuri jalan tersebut mencari rumah penduduk yang mungkin bisa menunjukkan atau mengantarnya ke bengkel terdekat.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan.

“Naik!” Kata sebuah suara disampingnya.

Joko terkejut. Ia meloncat kesamping.

Sebuah angkot berwarna putih berhenti disampingnya searah dengan jalan yang ia tuju. Seorang pria setengah baya berambut putih ada dibelakang kemudi. Ia lah yang tadi menyuruh Joko naik.

“Ini angkot terakhir. Tak ada mobil lain lagi yang mau membawamu!” Pria itu berbicara lagi. “ Cepatlah! Tak ada waktu lagi.”

Joko yang masih kaget bergegas naik.

“Antar saya ke bengkel yang terdekat ya pak!” Joko berbicara kepada supir itu.

Ia hanya tersenyum sinis.

Angkot kecil itu diisi sembilan orang termasuk Joko dan si supir. Wajah-wajah mereka terlihat pucat dan lelah. Dua orang anak muda duduk dibangku depan, mereka berpelukan dan sesekali mereka memandang wajah Joko dengan pandangan aneh. Seorang lelaki tua duduk di sebelah Joko, didepan orang tua itu ada seorang ibu muda yang memangku anaknya yang kurang lebih berusia lima tahun. Disebelah Ibu itu ada seorang gadis muda yang kira-kira berumur empat belas tahun. Ia menangis sambil matanya terus memandang keluar. Diseberang gadis itu duduk seorang penjaja jamu lengkap dengan bakul berisi botol-botol jamu. Ia duduk berpangku tangan, matanya tak lepas dari bakul jamunya.

Beberapa lama kendaraan itu berjalan Joko tak melihat satu rumah pendudukpun dalam perjalanan mereka itu, yang ia lihat hanyalah rimbunnya pepohonan dan gelapnya malam. Joko khawatir ia akan tambah tersesat. Tak ada satupun penumpang yang berbicara mereka sepertinya sudah paham akan kemana mereka pergi hanya isak tangis remaja itu yang terdengar dan tak ada satupun yang perduli.

“Aku mau pulang…Ibu….Aku mau pulang!” Kata-kata itu sering ia ucapkan sambil menangis.

Joko mulai cemas.

Angkot itu tiba-tiba berhenti. Sang supir turun lalu menarik Joko keluar dari angkot itu.

“Kamu belum boleh ikut!” Katanya. “Kembali sekarang!” Joko terperanjat.

“Kembali?Apa maksud bapak? Saya sedang mencari sebuah bengkel.” Ucap Joko “Motor saya ringsek pak, bawa saya ke bengkel! Jangan turunkan saya disini pak! Saya tidak tahu mau kemana”

Supir itu menatap tajam ia hanya berkata, “Belum waktumu!” lalu kembali kebelakang kemudi.Angkotnya melaju meninggalkan Joko yang kebingungan.

Joko tambah tak mengerti, tapi belum sempat ia berkata apa-apa tubuhnya terasa ditarik dari belakang dengan sangat cepat dan keras. Semuanya mendadak kabur lalu perlahan menjadi gelap.

Cahaya putih menyinari mata Joko. Isak tangis ibunya terdengar disampingnya. Perlahan matanya mulai melihat selain cahaya yang tadi menusuk matanya itu. Ibu, ayah, adik dan kakaknya berdiri disampingnya. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Seorang pria dan wanita berseragam putih berdiri disamping mereka dengan senter kecil ditangan. Infus dan masker oksigen melekat ditubuhnya. Ia dirumah sakit.

Didengarnya perkataan si pria kalau ia hanya mengalami gegar otak ringan dan beberapa tulang rusuk yang patah dan harus beristirahat total. Terdengar juga ayah dan ibunya mengucap syukur.

Ia masih tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi saat tamu-tamu datang membesuknya ia mendengar Ibunya bercerita bahwa ia ditemukan pingsan disamping motornya akibat tabrak lari dan baru ditemukan keesokan paginya oleh penduduk tempat terjadinya kecelakaan.

Saat tamu-tamu itu berpamitan pulang Joko melihat supir angkot yang ditumpanginya berdiri disudut ruangan. Ia tersenyum kepadanya, lalu berjalan menembus dinding.

~ by 8129 on November 3, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.