header image
 

Cerita Dari Bangku Sekolah

Kisah ini terjadi saat aku berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMP kelas tiga. Awalnya aku belum tahu nama gadis itu. Siswi berwajah manis berkulit putih berambut coklat kemerahan, bermata besar yang juga berwarna coklat di kelas 3-5. Yang aku tahu julukannya adalah Stephanie tokoh Opera Sabun Australia Return To Eden yang sangat populer saat itu dan dia memang mirip dengan tokoh yang di perankan Rebecca Gilling tersebut.

Arah pulang kami pun searah kita sama-sama naik bus jurusan Tanah Abang yang lewat halte depan gedung DPR/MPR saat itu. Diam-diam aku sering mencuri pandang mengagumi wajahnya. Tubuhnya cukup tinggi, diatas rata-rata siswi-siswi yang lain. Dia sepertinya gadis yang sopan, dia selalu memakai rok lebar yang panjangnya melewati lutut. Yang juga kuperhatikan juga adalah sifatnya yang terlihat pemalu dan tidak banyak omong dibandingkan gadis-gadis lain disekolah yang sok cantik dan bermulut besar. She was my favorite girl.

Sejak kelas satu aku sudah sering melihatnya tapi entah kenapa baru dikelas tiga sosok gadis itu baru mencuri perhatianku. Bahkan dikelas tiga pun tak pernah aku berusaha mencari tahu siapa namanya karena aku juga termasuk cowok pemalu lagi pula julukan kami anak SMP waktu itu yang masih ‘setengah tiang’ karena masih memakai celana pendek membuatku ragu untuk memulai sebuah cinta monyet. Yang pasti aku sering memperhatikannya dari jauh. Aku suka padanya.

Hingga di suatu hari Sabtu dibulan Februari sesaat sebelum tiba disekolah beberapa siswa bercerita tentang seorang siswi kelas tiga yang tewas tertabrak mobil kemarin. Mereka membicarakan gadis idamanku. Aku terkejut, hatiku berdebar kencang dan berharap mereka salah.

Sesampainya di sekolah kulihat beberapa siswa mengerubungi papan pengumuman di depan ruang guru yang memberitahukan kematian siswi tersebut. Akupun penasaran untuk melihatnya.

Ada sebuah pas foto seorang gadis terpampang disana beserta pemberitahuan kematiannya. Foto gadis yang aku suka, gadis manis pendiam yang sebelumnya tak kuketahui namanya. Mardiah, nama gadis idamanku itu. Banyak yang bercerita jenazahnya terlihat tersenyum. Ia dimakamkan hari itu juga.

Stephanie telah pergi Tak ada teman yang tahu kekagumanku padanya. Gadis manis itu tak kan pernah lagi bisa kulihat tawanya atau merah pipinya saat tersipu malu. Tak banyak yang bisa kulakukan selain berdoa untuknya. Sabtu sore diawal Februari itu hujan turun dengan lebat, seakan langit turut berduka.

Berdasarkan Kisah Nyata

~ by 8129 on November 3, 2007.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.