Sebuah Cerita Ramadhan; Wawan & Bang Salim
Wawan baru saja memejamkan matanya ketika didengarnya suara seorang wanita mengucap salam sambil mengetuk-ngetuk pintu pagarnya.
"Sial! Siapa sih siang-siang begini ganggu orang tidur?" Umpatnya dalam hati.
"Waalaikumsalam" Jawab Wawan sambil membuka pintu rumahnya.
Seorang wanita bertubuh agak gemuk berdiri didepan pagar membawa sebuah kantong plastik hitam.
"Maaf ‘dik kakaknya ada?" Tanya Ibu itu saat Wawan membuka pagar.
"Gak ada ‘bu. Dia lagi gak datang, ‘kan rumahnya bukan disini tapi didaerah kota" Jawab wawan.
"Saya ‘ngantar jahitan celana suami kakak kamu yang di vermak suami saya" Kata Ibu itu lagi.
"Oh, saya terima aja dulu, nanti saya sampaikan ke dia" Jawab Wawan.
Ibu itu memberikan kantong plastik itu ke Wawan. Sambil berkata," Ongkosnya duapuluh ribu"
"Ya sudah, nanti saya bilang juga ke kakak saya kalau dia datang" Kata Wawan.
"Iya deh" Kata ibu itu lagi "Tolong sampaikan ya ‘dik"
"Iya ‘bu. Makasih ya!" Jawab Wawan.
Masuk rumah Wawan langsung melempar kantong plastik itu ke sofa lalu kembali masuk ke kamar tidurnya meneruskan tidur siangnya di hari minggu pertama di bulan Ramadhan itu.
Keesokan pagi Ibu itu kembali datang sesaat sebelum Wawan berangkat kerja menagih uang duapuluh ribu yang jadi haknya.
"Kakak saya belum datang ‘bu" Ucap Wawan "Kalau sudah datang pasti saya sampaikan"
Ada rasa kecewa dimata perempuan gemuk itu. Juga sedikit kesal saat ia berkata:
"Gak bisa ditalangin dulu ya ‘dik? Cuma duapuluh ribu kok"
Wawan pun menjawab agak keras: "Nanti klo orangnya datang pasti di antar ‘bu Gak usah kuatir!"
"Ya sudahlah!" Ibu gemuk itu pergi sambil menatap wawan dengan pandangan nyinyir.
Sebenarnya Wawan bisa saja membayarkannya dulu menggunakan uangnya tapi entah kenapa ia merasa malas melakukannya. Gak penting.
Tepat seminggu setelah pertama kali kedatangan perempuan gemuk itu kakak Wawan datang. Saat pulang ia memberikan Wawan uang duapuluh ribu untuk diberikan kepada si tukang jahit.
"Dimana sih rumahnya?" Tanya Wawan
"Dijalan kecil seberang Puskesmas masuk terus lalu belok kiri." Jawab kakak Wawan "Tanya orang saja yang mana rumahnya Bang Salim, pasti di tunjuki"
Sore itu Wawan ke sana. Tak terlalu susah mencarinya, tapi gangnya ternyata lebih sempit dari yang Wawan bayangkan.
Didepan rumah Ibu gemuk itu sedang duduk .
"Assalamualaikum!" Ucap Wawan
"Waalaikumsalam!" Jawab si Ibu " Eh, ada apa ‘dik?"
"Ini ‘bu. Saya ‘ngantar ongkos jahit yang waktu itu" Jawab Wawan " Maaf telat"
"Sebentar ya, mari masuk!" Ibu itu lalu bergegas ke dalam.
Wawan hanya berdiri didepan pintu. Ruang tamu rumah yang berukuran sedang itu juga tempat Bang Salim melakukan profesinya. Di sebuah meja tergeletak peralatan standar seorang penjahit; meteran, kapur penanda, gunting dan penggaris pola. Beberapa jenis bahan juga bertumpuk disana. Disebelahnya lagi ada sebuah mesin jahit yang sepertinya biasa dipakai Bang Salim bekerja.
Ibu itu lalu kembali. Ia mendorong seorang pria kurus yang duduk dikursi roda. Dari wajah dan tubuhnya terlihat ia sedang sakit.
Itulah Bang Salim si tukang jahit.
"Eh, Wawan" Ucap Bang Salim saat melihatnya sambil tersenyum.
Wawan tak tahu kalau Bang salim kenal padanya.
Wawan pun masuk lalu menyerahkan selembar uang duapuluh ribu titipan kakaknya. Ada rasa bersalah ketika Bang Salim sedikit menampik pemberiannya itu tapi Wawan bersikeras. Alhamdulilah Bang Salim mau menerimanya.
"Maaf ya Bang baru sempat dikasih hari ini" Ucap Wawan "Kakak saya sedang sibuk dirumahnya sendiri jadi baru bisa datang tadi"
"Gak apa-apa ‘wan. Sebenarnya abang sudah ikhlaskan kok" Ucapan Bang Salim itu menampar Wawan. "Waktu itu abang lagi perlu untuk tambahan berobat"
"Sekali lagi maaf ya Bang" Ucap Wawan malu lalu bergegas pergi.
"Pulang dulu Bang. Assalamualaikum!" Ucap Wawan
"Waalaikumsalam!" Balas Bang Salim " Kirim salam buat kakakmu ya!"
"Insya Allah Bang!" Jawab Wawan lagi sambil berlalu.
Lega, yang Wawan rasakan setelah memberikan titipan kakaknya itu namun rasa bersalah tetap ada karena tidak mau menalanginya dahulu saat pertama kali Ibu itu datang setelah melihat kondisi bang Salim.
Dua minggu kemudian Idul Fitri tiba. Seusai Lebaran Wawan ingat punya beberapa celana yang dibelinya di Department Store yang belum sempat divermak karena kepanjangan sementara tukang jahit langganannya masih belum kembali dari mudik. Ia pun teringat kepada Bang Salim.
Siang itu ia mendatangi rumah Bang Salim membawa dua potong celana untuk dikurangi panjangnya.
"Assalamualaikum!" Ucap Wawan.
Agak lama ia menunggu. Meja kerja Bang Salim terlihat lebih rapi dibanding saat ia datang waktu Ramadhan.
Setelah salam ketiga baru ia mendapat jawaban.
"Waalaikumsalam!" Suara Istri Bang Salim membalas salamnya.
"Bang Salim ada ‘bu?" Tanya Wawan "Saya mau vermak celana"
Raut wajah perempuan itu seketika berubah, kesedihan terlihat dimatanya.
"Bang Salimnya sudah meninggal…" Ucapnya tersendat "Ia meninggal seminggu sebelum lebaran ‘dik"
Wawan seperti tersambar petir. Kakinya terasa lemas.
"Innalilahi!" Ucap Wawan "Maaf ya ‘bu saya gak tahu"
"Gak papa ‘dik" Jawab Ibu itu masih dengan sedikit terbata, mata Ibu itu berkaca-kaca.
"Penyakit livernya tambah parah dan gak tertolong" Tambahnya.
"Sekali lagi maaf ya ‘bu!" Ucap Wawan tak tega sambil bergegas pergi.
"Maaf juga ya!" Balas si Ibu " Kalau bapak masih ada pasti dikerjakan"
Wawan tersenyum kecut.
"Assalamualaikum!" Ucapnya sambil berlalu.
Gang sempit itu terasa bertambah sempit saat dilalui Wawan. Dadanya terasa sesak ada sedih yang mendesak diruang dadanya. Seharian kejadian itu ada dipikirannya juga semua kejadian yang terjadi di Ramadhan yang baru berlalu. Rasa sesal kembali muncul karena terlambat memberikan hak Bang Salim tapi Ia juga sedikit bersyukur karena masih sempat memberikannya.
Waktupun berlalu. Tahun berganti tapi kejadian dengan Bang Salim tetap terpatri dibenak Wawan.
Berdasarkan Kisah Nyata

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.