header image
 

House Of The Spirits

Malam baru turun ketika aku tiba di depan pintu pagar rumahku. Awan tebal yang bergulung dilangit kota mulai meleleh menjadi butiran gerimis kecil. House of the spirits aku menamakannya. Rumah yang dulu pernah diramaikan penghuninya kini hanya disisakan kenangan orang-orang yang pernah hidup disana dan aku.

Sejak lahir aku sudah tinggal disana, sampai kini. Dulu ada sepuluh orang yang tinggal disana. Ayah, Ibu, keenam anak mereka termasuk aku dan dua anak kakakku yang tertua. Kita tercerai berai sekarang, Ayah Ibu ku sudah meninggal lama sekali, kakakku yang tertua bersama kedua anaknya pergi ke luar negeri menyusul suaminya, kakak-kakak ku yang lain tinggal dirumah mereka sendiri-sendiri setelah mereka menikah.

Tak hanya penghuninya, bentuk rumah ini pun telah berubah jauh dari aslinya. Awalnya rumah ini adalah rumah tradisional betawi, semuanya terbuat dari kayu, lantainya terbuat dari semacam batu alam yang warnanya semacam dengan genting rumah jaman dahulu. Sejalan dengan waktu bentuk rumahpun menjadi terasa kuno dibandingkan rumah-rumah baru yang bermunculan. Sedikit demi sedikit rumah inipun dipugar hingga ke bentuknya yang sekarang ini.   

Rumah ini sebenarnya tidak terlalu luas tapi kadang begitu lengang dicekam kesendirian. Tapi bukan kesendirian yang sering menghantuiku justru kenangan masa lalulah hantu dirumah ini. Ya, mereka sering menghantuiku saat beban hidup meninggi datang dalam bentuk kenangan masa kecil yang berlari-lari didepan mataku; masa-masa indah saat tak ada masalah didunia ini, hanya bermain, bermain dan bermain. Dunia terasa penuh cinta dan asa, aku begitu diperhatikan oleh orang tuaku terutama Ibu. Beliau selalu memberikan kasih sayangnya yang terbaik kepadaku, sampai akhirnya waktu memaksaku dewasa dan bergumul dalam pencarian nafkah dan perjuangan hidup seorang diri.

Aku selalu berusaha mandiri dalam hal apapun, aku tak mau meminta tolong kepada kakak-kakak ku untuk hal-hal sepele. Karena aku tahu, mereka jarang bisa membantuku yang ada hanya nasehat yang panjang atau malah mereka yang berkeluh kesah padaku tentang masalah yang sedang mereka hadapi. Saat sedang menghadapi masalah besar biasanya rasa rindu itu muncul, rindu akan belaian Ibuku dan pelukannya yang menentramkan yang seolah memberikan seberkas cahaya pengharapan.

Terhadap teman-teman pun sama, tabu bagiku mengumbar masalah-masalahku kepada mereka. Alih-alih menolong bisa-bisa jadi sumber gosip baru diantara kita. Biarlah hanya diriku sendiri yang tahu sedalam apa masalah hidupku dan mereka hanya cukup tahu covernya saya.

Aku tak beruntung dalam hal materi, selalu cukup tidak pernah lebih bahkan kurang. Bertahun-tahun kujalani hidup seperti ini dengan harapan suatu saat hidup akan menjadi lebih baik dan ramah padaku. Tapi itu belum terjadi, apalagi hari ini, masalah dikantor yang sepertinya tak pernah habis kembali membebani pikiranku ditambah telepon dari seorang debt kolektor kartu kredit membuat diri ini begitu lemah dan tak berharga.

“Assalamualaikum!” Ucapku pelan saat memasuki pintu. Aku tahu tak akan ada yang menjawab tapi ku anggap tak ada salahnya mengucapkan salam ketika memasuki rumahku sendiri walaupun kosong.

Seusai mandi dan makan malam kulempar tubuhku ke sofa diruang tamu, rintik hujan bertambah jelas. Kubiarkan ruangan itu gelap membiarkan cahaya lampu dari halaman masuk sambil aku tenggelam memikirkan masalah-masalahku. Penyesalanpun muncul atas berbagai kesalahan-kesalahan dimasa lalu yang kuanggap berpengaruh dihidupku sekarang. Andaikan….ya bermacam andai-andai hinggap.

Malam yang bertambah dingin diguyur hujan, tubuh dan jiwaku yang lemah dan entah kenapa sofa itu terasa lebih nyaman malam itu hingga membuatku mengantuk, masih dalam berandai-andai tak lama aku terlelap. Hujan tambah lebat.

Aku terbangun kala kurasa ada sinar yang menerpa wajahku, ada suara burung dan radio yang terdengar dari dalam rumah. Aneh. Akupun bertambah heran melihat ruangan tempatku berbaring. Hampir menjerit aku saat melihat ke kaca yang ada dilemari sebelah tempat tidur. Itu Aku tapi aku saat berumur delapan tahun!

Setelah ku perhatikan tubuhku pun adalah tubuhku saat berumur delapan tahun dan aku sedang berada dikamar ibuku duapuluhenam tahun yang lalu. Belum selesai semua keterkejutanku suara itu, suara yang dulu begitu akrab ditelingaku menyapa;

“Eh, pangeran Ibu sudah bangun!”  Ibuku dalam bentuknya duapuluhenam tahun yang lalu berdiri didepan pintu.

Aku tertegun tak tahu berbuat apa, menangis atau tersenyum bahagia.

Ia menghampiriku lalu memelukku. Dan pelukan yang damai itu kurasakan sekali lagi. Aku tak tahan. Tangisku pecah.

Pelukannya bertambah erat. Tambah keras juga tangisku.

“Puaskan tangismu ‘nak! Keluarkan semuanya!” Ucapnya sambil masih memelukku erat. “Ibu datang menemuimu untuk menghiburmu”

Saat tangisku reda Ia menciumku, sambil menatapku lembut. Aku menangis lagi.

Dalam tangisku aku bertanya “ Apakah aku sudah mati ‘bu hingga bertemu Ibu disini? Ayah ada juga?”

“Tidak nak, kau belum meninggal” Jawabnya “Bukankah ini yang selalu kau harap-harapkan? Bertemu kami dan kembali ke saat ini?”

“Ini hanya sesaat nak, cuma sebatas sebuah penghiburan untukmu” Kata suara seorang laki-laki dari arah pintu.

“Ayah!” Aku menjerit sambil berlari memeluknya. Lalu tangan kuatnya menggendongku.

Mereka mengajakku berkeliling rumah. Rumah yang masih pada bentuk aslinya. Matahari begitu cerah menembus jendela kayu berjeluji besi yang kini terganti kusen modern.

Kami lalu duduk di beranda rumah, tanaman ibuku masih begitu rimbun menutupi pagar. Pohon rambutan yang kini telah ditebang masih berdiri anggun di tengah halaman. Diseberang, rumah Pak Husni masih ada, sementara sekarang telah dibeli penempat baru dan dipugar total. Pak Husni dan istrinya duduk di muka rumahnya. Mereka melambai dan tersenyum kepadaku. Aku membalasnya.

“Mana kakak-kakakku ‘bu?” Tanyaku

“Mereka tak ada disini, hanya kamu yang diizinkan kami bawa kemari.” Jawab Ibuku.

“Ibu dan Ayah tinggal disini?” Tanyaku lagi.

“Tidak nak, kami tidak tinggal disini” Jawab ayah. “Tempat dan saat inilah yang selalu kau kenang waktu kau sedih. Sebagian diri kamu masih tinggal disini dan selalu ingin kembali ke saat ini, saat ini Tuhan mengizinkan kami mengajak seluruh dirimu untuk ada disini, bertemu kami.”

“Aku ingin tetap disini bersama Ibu dan Ayah!” Ucapku

Ibuku tersenyum. Senyuman abadi yang selalu kurindukan.

“Belum waktumu ‘nak. Kau tak akan bisa menentang takdir Tuhan” jawab Ibuku lembut.

Waktu seperti terhenti disana. Susana begitu tenang dan damai. Kami asyik bercengkrama. Sesekali aku mencuri pandang menikmati wajah Ayah-Ibuku. Wajah-wajah yang selalu kurindu sampai akhir hayatku.

Lalu saat indah itu pun berakhir.

“Waktu kita habis nak!” Ucap Ayah. “Kami harus kembali ke alam kami begitu juga kau.”

Aku memeluknya lalu menangis.

“Kami tak pernah pergi darimu, kami masih ada didalam hati dan kenanganmu” Ibuku berkata sambil membelai rambutku. “Selalu doakan kami ya sayang?”

Tangisku bertambah keras. Begitu juga pelukanku kepada mereka. Sekujur tubuh ini seperti tak rela melepaskan mereka. 

“Selalu bersabar atas segala ujian Tuhan. Kau bisa melaluinya, seberat apapun itu.” Ayahku berpesan “Kau selalu diberiNya ujian yang akan selalu bisa kau atasi. Percayalah itu!”

“Jangan pernah tinggalkan ibadah, terutama sholatmu ‘nak!” Tambah Ibu “Hanyalah Tuhan penolongmu!”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Perlahan tangisku reda. Sekali lagi aku merasakan ciuman Ayah dan Ibuku di pipi dan keningku. Begitu lembut dan nyata. Kami berpelukan sekali lagi. Sayup-sayup adzan shubuh terdengar lalu kami seperti terpisah oleh kabut. Senyum mereka sempat terlihat.

Aku terbangun. Masih di sofa ruang tamu. Segalanya masih tampak jelas dan nyata dimataku. Dalam temaram aku hanya bisa terpaku lalu menangis tersedu mengenang pertemuan itu.

Adzan subuh semakin menggema. Seusai sholat aku bersyukur pada Allah yang mengizinkanku bertemu kedua orang tuaku dalam sebuah mimpi yang luar biasa nyata.

Hidupku memang tak lebih baik di keesokan harinya tapi satu semangat meyadarkanku bahwa Tuhan tak akan meninggalkan umatNya.

Kecupan Ibuku selalu terasa dikeningku.

~ by 8129 on January 20, 2008.

One Response to “House Of The Spirits”

  1. hmmm seperti kata lagu ” why can’t we be like story book children ” enjoying every moment not worry about tomorrow, miis the old time when everything look so quiet, safe, warm and full of love.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.