Hari Ini Sepuluh Tahun Yang Lalu(14 Mei 1998)
Hari itu cerah. Seperti hari-hari biasanya di bulan Mei yang mulai memasuki musim kemarau. Tak ada tanda-tanda bahwa hari itu akan menjadi hari yang berbeda. Entah kenapa aku malas sekali untuk ke kantor hari itu. Gak mood. Disamping ada beberapa ‘tugas’ yang harus aku selesaikan hari itu juga. So, sekitar jam setengah delapan aku menelepon ke rumah bos ku yang waktu itu tinggal di daerah sunter untuk meminta izin tak masuk karena ‘sakit’. Dengan sedikit melemah-lemahkan suaraku akhirnya bosku memberi izin. Bebaslah aku.
Sekitar jam sembilan aku keluar dari rumahku untuk menyelesaikan ‘tugas’ yang pertama; membayar tagihan handphone yang pada waktu itu aku memakai XL dan tempat pembayarannya di Gedung GKBI Jalan Sudirman. Setelah melalui antrian selama beberapa saat tugas pertamaku pun selesai. Kulanjutkan dengan tugas kedua yaitu mengambil VCD Player ku yang selesai di servis di Samsung Jalan Kesehatan.
Naik bus dari halte Bendungan Hilir Jalan Sudirman yang belum dihiasi oleh Busway masih cukup lancar untuk dilalui, tak lama kami telah melewati jalan Medan Merdeka Barat, tapi didepan Jalan Majapahit perjalanan terhambat. Bus menolak untuk melanjutkan perjalanan karena ada kerumunan orang yang sepertinya sedang berdemo di depan Gedung BTN Jalan Gajah Mada. Sial!
Para penumpang pun turun. Aku memutuskan untuk menuju Samsung melalui Jalan Tanah Abang I. Mulai ada perasaan tak nyaman di udara Jakarta siang itu. Waktu menunjukkan sekitar jam sebelas lewat. Kuputuskan untuk naik Bajaj, ojek masih jarang dan tak disemua tempat ada seperti sekarang ini. Tak lama akupun sampai di Samsung. Ku suruh si supir untuk menunggu.
Memasuki ruang servis, para karyawan Samsung tengah menonton siaran TV yang isinya tentang aksi penjarahan dibeberapa tempat di Jakarta. Suasana mencekam dan rasa khawatir ada disana. Aku pun tak mau berlama-lama, selesai aku membayar biaya servis akupun bergegas pulang. Berutung aku menyuruh si supir menunggu karena jalanan semakin sepi oleh kendaraan.
Perjalanan pulang yang aku kira singkat ternyata banyak mengalami kendala, disana sini kami terhalang kerumunan massa yang entah menuju kemana. Beberapa kali si supir bajaj harus memutar arah mencari jalan alternatif. Aku mulai was-was. Setelah hampir satu jam berputar-putar kami sampai di Jalan Kota Bambu Selatan tetapi tetap saja jalan tersebut tak bisa dilalui. Ratusan orang sedang menuju ke arah kami, mereka menuju arah Slipi Jaya. Si supir menolak melanjutkan, terpaksa aku turun dan membayar lebih untuk kerja kerasnya membawaku pulang.
Dengan membawa tas plastik berisi VCD Player aku berjalan menuju arah tercepat menuju rumahku. Ramai teriakan orang-orang yang menuju ke arah ku membuat nyaliku kecut. Dari jauh sesuatu seperti besi atau kayu ada ditangan mereka. Entah kenapa kaki ini menjadi lemas. Jalan yang sebenarnya tak begitu jauh menjadi berat untuk dilalui.
Beruntunglah di jalan di samping showroom Polytron aku bertemu seorang tukang ojek yang menawarkan jasanya. Ia pun membawaku melalui jalan tikus yang mengarah ke tempat yang lebih aman. Dijalan ia bercerita tentang apa yang dilihatnya di jalan sepanjang hari itu; pejarahan toko serta pembunuhan sadis yang dilakukan terhadap orang-orang Tionghoa. Aku tak menyangka hari yang normal itu seketika menjadi hari yang panas dan brutal. Aku pun sampai di rumah dan tak pernah aku merasa se aman itu saat tiba didepan pintu rumahku.
Di TV, breaking news mengenai kerusuhan yang terjadi dimana-mana mendominasi siaran. Jakarta dalam keadaan darurat. Aku beruntung bisa sampai dirumah, karena yang kudengar banyak orang yang tak bisa pulang kerumah hari itu malah selamanya. Dari atap di lantai dua rumahku aku bisa melihat asap tebal mengepul dari berbagai bagian kota ini. Hingga malam suasana masih mencekam, warga sekitar rumah bersiaga kalau-kalau ada penjarah yang menuju ke wilayah kami. Tidurku tak lelap malam itu, suara teriakan orang-orang yang bergerombol siang tadi masih bergema di telingaku.
Keesokan harinya suasana berangsur pulih, namun dikabarkan beberapa mall, ratusan rumah maupun toko milik etnis tionghoa di jarah dan dibakar. Ribuan jiwa melayang. Jutaan orang Cina dan warga negara asing mengungsi keluar Jakarta dalam beberapa hari kemudian. Penjarahan dalam skala yang lebih kecil masih berlangsung diberbagai tempat.
Beberapa hari kemudian Soeharto menyatakan pengunduran dirinya. Era reformasi dimulai. Warga negara ini menyambut antusias era baru yang diharapkan membawa Negara ini dari krisis ekonomi yang menjadi pemicu demonstrasi yang berakhir dengan tewasnya beberapa mahasiswa yang mengakibatkan kerusuhan besar itu. Peristiwa pembantaian etnis tionghoa dibantah oleh berbagai pihak, tapi kesaksian makin banyak bermunculan saat itu, disamping rekaman gambar CNN yang semakin menguatkan bahwa peristiwa itu bukan khayalan. Hal tersebut mengingatkanku pada cerita teman dari salah satu temanku yang dekat dengan keluarga orang nomer satu di negara ini saat itu beberapa bulan sebelumnya yang mengatakan akan ada pembantaian etnis Tionghoa di Indonesia, aku gak percaya dan menyatakan itu hanya isu. Juga cerita beberapa teman etnis Tionghoa yang dipaksa membayar limapuluh ribu rupiah untuk Teh Botol yang dibelinya di daerah Glodok dengan alasan “ ‘Dikit lagi lo juga mati!”. Mungkinkah peristiwa kerusuhan Mei adalah sebuah rekayasa satu pihak di negara ini agar terjadi pergantian kekuasaan ekstra cepat? Hanya mereka yang tahu.
Reformasi telah berlangsung hingga hari ini. Tapi ternyata harapan hanya tinggal harapan. Pemerintahan dari era yang baru ternyata tak banyak berubah hanya pergantian kekuasaan dari satu orang ke yang lainnya. Korupsi semakin merata, harga bahan pokok semakin melambung sementara pendidikan semakin mahal dan lapangan kerja semakin sulit didapat.
Dalam kondisi ekonomi masyarakat yang semakin tertekan seperti sekarang ini kita sepertinya kita sedang duduk disebuah bom waktu yang siap untuk meledak. Kalau pemimpin-pemimpin kita masih tetap tidak punya sensitivitas yang besar terhadap rakyatnya bisa jadi suatu waktu akan ada Reformasi II atau bahkan sebuah Revolusi. Wallahualam.

fiuh…jadi inget kejadian ini.
waktu mo pulang sekolah jaman smp di melawai, bis2 di terminal blok. m pada kacau semua. tujuan lenteng agung, harus ditempuh jalan kaki dari pasar minggu. ikut lari2an kesanakemari, takut kena hantam orang2 yang bawa balok dan sejenisnya.
~sedih..
zaenalabdn said this on December 29, 2008 at 6:57 am