Satu Setengah Jam
Satu setengah jam aku mendengar ‘ceramah’ dari seorang laki-laki bertitel kakak itu. Ceramah tak menyejukkan hati yang malah memberi kesan bahwa Allah itu amat kejam dan pemilih dengan mengkotak-kotakkan umatNya. Bukankah kita-manusia-yang sesungguhnya kejam terhadap diri kita sendiri? Membiarkan saudaranya menderita sambil menyalahkannya dan menganggapnya jauh dari sang Khalik?
Satu setengah jam itu aku tak banyak bicara, aku biarkan dirinya bersuara tanpa ada sanggahan ataupun sela.
Satu setengah jam itupun diselingi pujian terhadap diri sendiri. Ia menceritakan kerajinannya beribadah dan menghadiri Majlis Taklim, hingga membuat diriku bertanya dalam hati;masih adakah pahala dari segala Ibadah dan Taklim itu setelah ia me-Riya-kannya ditelingaku ini?
Saat sesi satu setengah jam itu selesai, intinya adalah aku seorang pendosa, aku tak beribadah, aku orang yang ummi terhadap ajaran agamaku sendiri. Demi Allah, nyaris kafir aku mendengar semua tuduhan itu. Astagfirullah Hal Adziim.
Dibalik itu semua aku tesenyum dalam hati. Biarlah aku dianggap bodoh, biarlah diri ini diangap tak suci dan tak beriman, biarlah semua titel buruk itu di sematkan kepadaku. Allah lebih tahu isi hati, jiwa dan ragaku dibanding kamu. Karena kepadaNya pula aku meminta, bukan kepada mu!
Sepulang dirinya,aku langsung masuk ke kamarku. Sambil berbaring pikiran ku melayang mengingat semuanya hingga membuat diri ini bertanya; siapakah aku? Siapakah mereka? Apa yang aku lakukan disini? Siapakah aku di mata mereka? Yakinkah bahwa mereka adalah keluargaku? Mengapa aku merasa berbeda dari mereka?
Sampai terlelap semua pertanyaan itu masih menggayut di pikiranku.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.