Entah kenapa perjalanan ke Jogja kali ini kayaknya agak terasa ‘kurang memuaskan’, entah karena ‘beban’ berat karena bawa temen orang asing or else, gak ngerti juga deh. Yang pasti mulai sejak keberangkatan hingga hari terakhir di sana pun agak terasa gak nyaman.
Kekesalan I
Dimulai dari Pesawat Mandala yang harusnya berangkat jam 19.15 ,Jum’at malam 25 Juli di delay hingga esok harinya jam 5 pagi dengan alasan pesawat yang masih ada di Batam gak bisa terbang karena cuaca buruk, dongkol buanget, mau marah tapi gak bisa berbuat apa-apa. Walau Mandala menawarkan full refund, Tiket Lion dan Garuda penerbangan ke Jogja dah habis untuk malam itu , so what could i do ya terima tawaran mereka untuk diinapkan di hotel lalu naik 1st flight keesokan paginya. Sementara Hans temenku yang asal Swedia itu dah sampai disana jam 19.00 karena dia pakai Garuda.
Penumpang yang setuju diinapkan lalu dinaikan ke sebuah bis wisata lalu diberangkatkan ke Hotel. Awalnya aku mikir..wah Sheraton Bandara nih…asyiik! Lho tapi kok dilewati..ternyata kita dibawa ke sebuah hotel yang masih dikawasan bandara juga. FM7 namanya, sebuah Hotel Transit, bahasa kasarnya Hotel Selingkuh..he he he. Ya memang dinamakan Hotel Selingkuh karena biasanya mereka-mereka yang kesana tujuannya ya untuk ML sejam dua jam dengan pacar gelap lalu cek out.
Hotelnya lumayan bagus, bergaya minimalis dan lumayan baru dibubuhi dengan warna-warna yang mencolok, Hotelnya kelihatan kok saat pesawat Take Off dan Landing, yang pasti cukup mengobati kekesalan lah. Tapi ternyata satu kamar disediakan untuk dua orang hmmmh lagi-lagi aku narik napas panjang walau pun akhirnya aku terima juga. Aku dipasangkan dengan seorang Bapak asli Jogja yang sekarang menetap di Balikpapan. Tak lama kamipun diantar ke kamar masing masing. Begitu masuk kamar, ya ampuun…!
Kamarnya cukup luas dan nyaman tapi yang mengganggu adalah kamar mandinya yang berada tepat disebelah tempat tidur hanya berbatas kaca tanpa penutup, dan toilet yang ada dibelakang kamar mandi juga tak berpenutup, walaupun tak kelihatan tapi baunya kan bakalan tercium. Aku bertanya kepada bell boy yang mengantar kami kalau-kalau ada kamar dengan kamar mandi berpenutup. Ternyata tidak ada-katanya-. Untungnya kami berdua sudah mandi, jadi sepertinya gak memerlukan kamar mandi super sexy tersebut. Tak lama makan malam kami tiba.
Jam tiga pagi kami dibangunkan, lalu ‘sahur’ di resto utama Hotel tersebut. Kenyang. Akupun naik bis yang sudah menunggu. Bla..bla..bla..tepat jam 5 pesawatpun berangkat. Cuma 30 menit lebih kita diudara tak lama pesawatpun sampai di Adi Sucipto. Jemputanku sampai tak lama kemudian.
Kekesalan II
Di hari pertama rencananya hari itu kita akan bawa Hans ke Borobudur, dan kalau bisa kami akan menyaksikan acara spesial yang diadakan hari itu oleh Walubi. Sesampainya disana ternyata kita harus kecewa, Borobudur sudah ditutup untuk selain undangan sejak jam 1 siang dengan alasan acara khusus tersebut dihadiri Presiden dkk. Kasihan Hans, walau dia bilang ‘I’m okay’, tapi kekesalan tak bisa dilenyapkan dari matanya. Aneh juga acaranya jam 19.00 tapi jam 13.00 Borobudur nya dah ditutup. Kalau jam 16.00 aku kira masih wajar lah. Cabut lah kita, mampir di Candi Mendut sebentar dan akhirnya acara belanja yang seharusnya besok hari jadi dimajukan dan merencanakan kembali ke Borobudur besok lalu ke Keraton Kesultanan.
Kekesalan III
Keesokan hari rencananya kita berangkat jam 8 pagi dan hanya aku, Hans dan supir temanku yang akan pergi, di menit terakhir ternyata berubah. Temanku mau ikut lagi, lalu berubah lagi dengan mengajak teman yang lain. Alhasil kita molor dua jam untuk acara tunggu-menunggu itu. Walau demikian Borobudur tetap bisa dikunjungi, sampai di loket karcis petugas menyuruh kami untuk menuju loket ‘khusus orang asing’ sambil menunjuk ke sebuah gedung kecil disebelah sana. Hah? Aku heran, walaupun aku turuti juga. Aku kira ‘loket khusus orang asing’ tersebut disediakan untuk kenyamanan para orang asing ternyata harga tiketpun beda. Para orang asing dikenakan harga $11/orang atau Rp. 99.000 sementara orang lokal kayak aku di hargai Rp 9.000 saja. Wow! Sangat diskriminatif sekali.
Sangat absurd objek wisata mendunia seperti Borobudur menerapkan tarif yang gak adil bagi pengunjungnya dimana orang asing harus membayar 10X lipat dari orang lokal. Gak jelas alasannya apa, apakah pengelolanya salah satu penganut paham Apartheid atau masih kesal sama Wong Londo yang pernah menjajah negara ini 350 tahun? Atau merasa orang asing itu pasti kuaya ruaya dinegaranya?
Memang sih $11 buat orang asing memang receh bagi mereka tapi dari segi rasa keadilan apa hal tersebut bisa diterima? Apa pengelolanya mau kalau suatu saat mampu jalan-jalan ke luar negeri disuruh membayar beberapa kali lipat untuk naik ke Menara Eiffel atau Patung Liberty karena kulitnya gelap? Merapi mengepulkan asapnya hari itu.
Kekesalan IV
Borobudur pun selesai, kita pun meluncur kembali ke arah Jogja menuju Kraton Kesultanan. Dua orang temanku memutuskan gak ikut ke Kraton dan memilih kongkow-kongkow di Mall Malioboro saja. Yo wis, aku, Hans dan supir saja yang menuju ke sana. Kami sampai di keraton jam 13.42 menit, sementara jam tutup Kraton jam 14.00-katanya-. Sampai disana, kecewa lagi. Dah tutup, dengan alasan yang lagi-lagi gak jelas. Hans kesel lagi, matanya memang ketutup kacamata hitam tapi bibirnya kelihatan merengut. Tarno si supir berusaha mencari kenalannya salah satu abdi dalem yang mungkin bisa membantu kita untuk bisa masuk, tapi ternyata yang bersangkutan sedang tidak bertugas. Hmmmm…BT deh!
Memang susah agaknya berhubungan dengan sesuatu yang berbau feodal di negeri ini. Sehingga segala sesuatu pun bisa seenaknya aja diterapkan, buktinya ya jam tutup Kraton lah. Kesannya jadi seenaknya dan gak profesional menjalankan industri pariwisatanya.
Tarno pun menawarkan untuk mengunjungi Tamansari, pemandian penghuni Kraton tempo doeloe yang gak jauh letaknya dari Kraton Kesultanan yang alhamdulilah jam tutupnya masih lebih on time dan masuk akal. Nice place, cukup terhibur melihat-lihat tempat tersebut yang jaman dulunya adalah semacam Harem nya Sultan dimana beliau dari kamarnya bisa melihat-
lihat selir-selirnya yang sedang bermandi ria yang akhirnya dipilih untuk ‘menemaninya’ hari itu. Lalu kita pun dibawa ke mesjid Sultan lama yang ada di bawah tanah lalu mengikuti lorong tersebut yang akhirnya menuju reruntuhan bangunan Kraton lama yang hampir runtuh sebagian temboknya. Lumayan, tapi sayang komplek obyek wisata yang sebenarnya menarik tersebut harus bercampur dengan rumah-rumah penduduk, kalau saja bisa membersihkannya dari perumahan yang ada pasti akan lebih bersih dan terlihat lebih rapi. Perjalanan hari itu pun berakhir di Mall.
Well, keesokan harinya kita pun balik ke Jakarta, gak ada delay atau apapun. Walaupun agak sedikit BT berkaitan dengan beberapa objek wisata disana, overall masih bisa memuaskan hati. Yang pasti mungkin kita-kitanya yang musti lebih prepare kalau mau mengunjungi objek wisata, terutama yang berhubungan dengan jarak tempuh, jam buka dan tutup dan juga jangan kebanyakan ngulur waktu kalii…

The lights are off,the curtain is down, the seats are empty the season is over. American Idol 2008 is finalized, all the laughs, tears and drama during the show has become memories now. The Idol has been chosen, the star has been found.