header image
 

House Of The Spirits

Malam baru turun ketika aku tiba di depan pintu pagar rumahku. Awan tebal yang bergulung dilangit kota mulai meleleh menjadi butiran gerimis kecil. House of the spirits aku menamakannya. Rumah yang dulu pernah diramaikan penghuninya kini hanya disisakan kenangan orang-orang yang pernah hidup disana dan aku.

Sejak lahir aku sudah tinggal disana, sampai kini. Dulu ada sepuluh orang yang tinggal disana. Ayah, Ibu, keenam anak mereka termasuk aku dan dua anak kakakku yang tertua. Kita tercerai berai sekarang, Ayah Ibu ku sudah meninggal lama sekali, kakakku yang tertua bersama kedua anaknya pergi ke luar negeri menyusul suaminya, kakak-kakak ku yang lain tinggal dirumah mereka sendiri-sendiri setelah mereka menikah.

Tak hanya penghuninya, bentuk rumah ini pun telah berubah jauh dari aslinya. Awalnya rumah ini adalah rumah tradisional betawi, semuanya terbuat dari kayu, lantainya terbuat dari semacam batu alam yang warnanya semacam dengan genting rumah jaman dahulu. Sejalan dengan waktu bentuk rumahpun menjadi terasa kuno dibandingkan rumah-rumah baru yang bermunculan. Sedikit demi sedikit rumah inipun dipugar hingga ke bentuknya yang sekarang ini.   

Rumah ini sebenarnya tidak terlalu luas tapi kadang begitu lengang dicekam kesendirian. Tapi bukan kesendirian yang sering menghantuiku justru kenangan masa lalulah hantu dirumah ini. Ya, mereka sering menghantuiku saat beban hidup meninggi datang dalam bentuk kenangan masa kecil yang berlari-lari didepan mataku; masa-masa indah saat tak ada masalah didunia ini, hanya bermain, bermain dan bermain. Dunia terasa penuh cinta dan asa, aku begitu diperhatikan oleh orang tuaku terutama Ibu. Beliau selalu memberikan kasih sayangnya yang terbaik kepadaku, sampai akhirnya waktu memaksaku dewasa dan bergumul dalam pencarian nafkah dan perjuangan hidup seorang diri.

Aku selalu berusaha mandiri dalam hal apapun, aku tak mau meminta tolong kepada kakak-kakak ku untuk hal-hal sepele. Karena aku tahu, mereka jarang bisa membantuku yang ada hanya nasehat yang panjang atau malah mereka yang berkeluh kesah padaku tentang masalah yang sedang mereka hadapi. Saat sedang menghadapi masalah besar biasanya rasa rindu itu muncul, rindu akan belaian Ibuku dan pelukannya yang menentramkan yang seolah memberikan seberkas cahaya pengharapan.

Terhadap teman-teman pun sama, tabu bagiku mengumbar masalah-masalahku kepada mereka. Alih-alih menolong bisa-bisa jadi sumber gosip baru diantara kita. Biarlah hanya diriku sendiri yang tahu sedalam apa masalah hidupku dan mereka hanya cukup tahu covernya saya.

Aku tak beruntung dalam hal materi, selalu cukup tidak pernah lebih bahkan kurang. Bertahun-tahun kujalani hidup seperti ini dengan harapan suatu saat hidup akan menjadi lebih baik dan ramah padaku. Tapi itu belum terjadi, apalagi hari ini, masalah dikantor yang sepertinya tak pernah habis kembali membebani pikiranku ditambah telepon dari seorang debt kolektor kartu kredit membuat diri ini begitu lemah dan tak berharga.

“Assalamualaikum!” Ucapku pelan saat memasuki pintu. Aku tahu tak akan ada yang menjawab tapi ku anggap tak ada salahnya mengucapkan salam ketika memasuki rumahku sendiri walaupun kosong.

Seusai mandi dan makan malam kulempar tubuhku ke sofa diruang tamu, rintik hujan bertambah jelas. Kubiarkan ruangan itu gelap membiarkan cahaya lampu dari halaman masuk sambil aku tenggelam memikirkan masalah-masalahku. Penyesalanpun muncul atas berbagai kesalahan-kesalahan dimasa lalu yang kuanggap berpengaruh dihidupku sekarang. Andaikan….ya bermacam andai-andai hinggap.

Malam yang bertambah dingin diguyur hujan, tubuh dan jiwaku yang lemah dan entah kenapa sofa itu terasa lebih nyaman malam itu hingga membuatku mengantuk, masih dalam berandai-andai tak lama aku terlelap. Hujan tambah lebat.

Aku terbangun kala kurasa ada sinar yang menerpa wajahku, ada suara burung dan radio yang terdengar dari dalam rumah. Aneh. Akupun bertambah heran melihat ruangan tempatku berbaring. Hampir menjerit aku saat melihat ke kaca yang ada dilemari sebelah tempat tidur. Itu Aku tapi aku saat berumur delapan tahun!

Setelah ku perhatikan tubuhku pun adalah tubuhku saat berumur delapan tahun dan aku sedang berada dikamar ibuku duapuluhenam tahun yang lalu. Belum selesai semua keterkejutanku suara itu, suara yang dulu begitu akrab ditelingaku menyapa;

“Eh, pangeran Ibu sudah bangun!”  Ibuku dalam bentuknya duapuluhenam tahun yang lalu berdiri didepan pintu.

Aku tertegun tak tahu berbuat apa, menangis atau tersenyum bahagia.

Ia menghampiriku lalu memelukku. Dan pelukan yang damai itu kurasakan sekali lagi. Aku tak tahan. Tangisku pecah.

Pelukannya bertambah erat. Tambah keras juga tangisku.

“Puaskan tangismu ‘nak! Keluarkan semuanya!” Ucapnya sambil masih memelukku erat. “Ibu datang menemuimu untuk menghiburmu”

Saat tangisku reda Ia menciumku, sambil menatapku lembut. Aku menangis lagi.

Dalam tangisku aku bertanya “ Apakah aku sudah mati ‘bu hingga bertemu Ibu disini? Ayah ada juga?”

“Tidak nak, kau belum meninggal” Jawabnya “Bukankah ini yang selalu kau harap-harapkan? Bertemu kami dan kembali ke saat ini?”

“Ini hanya sesaat nak, cuma sebatas sebuah penghiburan untukmu” Kata suara seorang laki-laki dari arah pintu.

“Ayah!” Aku menjerit sambil berlari memeluknya. Lalu tangan kuatnya menggendongku.

Mereka mengajakku berkeliling rumah. Rumah yang masih pada bentuk aslinya. Matahari begitu cerah menembus jendela kayu berjeluji besi yang kini terganti kusen modern.

Kami lalu duduk di beranda rumah, tanaman ibuku masih begitu rimbun menutupi pagar. Pohon rambutan yang kini telah ditebang masih berdiri anggun di tengah halaman. Diseberang, rumah Pak Husni masih ada, sementara sekarang telah dibeli penempat baru dan dipugar total. Pak Husni dan istrinya duduk di muka rumahnya. Mereka melambai dan tersenyum kepadaku. Aku membalasnya.

“Mana kakak-kakakku ‘bu?” Tanyaku

“Mereka tak ada disini, hanya kamu yang diizinkan kami bawa kemari.” Jawab Ibuku.

“Ibu dan Ayah tinggal disini?” Tanyaku lagi.

“Tidak nak, kami tidak tinggal disini” Jawab ayah. “Tempat dan saat inilah yang selalu kau kenang waktu kau sedih. Sebagian diri kamu masih tinggal disini dan selalu ingin kembali ke saat ini, saat ini Tuhan mengizinkan kami mengajak seluruh dirimu untuk ada disini, bertemu kami.”

“Aku ingin tetap disini bersama Ibu dan Ayah!” Ucapku

Ibuku tersenyum. Senyuman abadi yang selalu kurindukan.

“Belum waktumu ‘nak. Kau tak akan bisa menentang takdir Tuhan” jawab Ibuku lembut.

Waktu seperti terhenti disana. Susana begitu tenang dan damai. Kami asyik bercengkrama. Sesekali aku mencuri pandang menikmati wajah Ayah-Ibuku. Wajah-wajah yang selalu kurindu sampai akhir hayatku.

Lalu saat indah itu pun berakhir.

“Waktu kita habis nak!” Ucap Ayah. “Kami harus kembali ke alam kami begitu juga kau.”

Aku memeluknya lalu menangis.

“Kami tak pernah pergi darimu, kami masih ada didalam hati dan kenanganmu” Ibuku berkata sambil membelai rambutku. “Selalu doakan kami ya sayang?”

Tangisku bertambah keras. Begitu juga pelukanku kepada mereka. Sekujur tubuh ini seperti tak rela melepaskan mereka. 

“Selalu bersabar atas segala ujian Tuhan. Kau bisa melaluinya, seberat apapun itu.” Ayahku berpesan “Kau selalu diberiNya ujian yang akan selalu bisa kau atasi. Percayalah itu!”

“Jangan pernah tinggalkan ibadah, terutama sholatmu ‘nak!” Tambah Ibu “Hanyalah Tuhan penolongmu!”

Aku tak bisa berkata apa-apa. Perlahan tangisku reda. Sekali lagi aku merasakan ciuman Ayah dan Ibuku di pipi dan keningku. Begitu lembut dan nyata. Kami berpelukan sekali lagi. Sayup-sayup adzan shubuh terdengar lalu kami seperti terpisah oleh kabut. Senyum mereka sempat terlihat.

Aku terbangun. Masih di sofa ruang tamu. Segalanya masih tampak jelas dan nyata dimataku. Dalam temaram aku hanya bisa terpaku lalu menangis tersedu mengenang pertemuan itu.

Adzan subuh semakin menggema. Seusai sholat aku bersyukur pada Allah yang mengizinkanku bertemu kedua orang tuaku dalam sebuah mimpi yang luar biasa nyata.

Hidupku memang tak lebih baik di keesokan harinya tapi satu semangat meyadarkanku bahwa Tuhan tak akan meninggalkan umatNya.

Kecupan Ibuku selalu terasa dikeningku.

2007

Dalam sekejap kau berlalu..

Ada duka yang menganga ditinggalkanmu,

Ribuan harapan yang masih tertunda,

Cinta yang masih di awang-awang,

Cita yang masih jadi impian,

Dan ribuan kenangan yang masih membalut jiwa dan raga,

2007…

Kau kuras air mataku,

Kau dorong asaku ke sudut terkelam dalam hidup,

Tapi kau jugalah yang menuntunku dalam doa dan nikmatnya ibadah,

Kau juga yang membuatku percaya Tuhan tak pernah berpaling dariku,

Terima kasih atas semua kenangan, teman, dan beberapa keinginan yang tercapai,

Kuharap kaulah tahun terberatku,

Kuharap saat kau berlalu sirnalah pula segala kesulitanku,

Tuhan,

Tanpa RahmatMu tak kan bisa kulalui tahun yang maha berat ini,

This Is Love

Gue lagi suka banget sama lagu barunya Kelly Rowland yang liriknya menurut gue bagus dan romantis banget. Dengerin deh bareng pasangan or pacar apalagi pas lagi hujan didalam mobil sambil pegangan tangan atau pas lagi mo tidur dan kangen sama dia..kalo gak senyum-senyum sendiri pasti nangis…he he he

Ini dia bagian depan liriknya dan bagian yang paling gue suka,lirik-lirik berikutnya gak kalah bagus..sampai akhir..

Can you describe the moment,

When two people fall in love,

Some say the clouds were spin in circles,

And the rain will turn to dust,

The poor will start to laugh,

Even the rich will start to cry,

It could sneak up like a soldier,

It can wake you up at nite,

That’s what I feel when I’m standing here with you,

That’s what my heart has sworn to be true,

This is love, Its written on my face,

Its the way I lean my body towards u,

Even when I’m hundred miles away,

This is love,

Like a diamond in the sand,

It took so long to find you,

I can’t wait another day to say;

This is love..

KELLY ROWLAND-This Is Love

In The Mud

The mud is thick and dense,

Dark as nights, deep as a river

I’m in it losing my sense,

Bracing me tight, taking me deeper

My arms waving

Struggle to reach a closest branch,

Waiting helping hand(s)

With every last breath in my lungs

The sun is setting

Night is falling

Wish my help is coming

Before hope starts fading

Saat Terendah

Di dunia bawah ini aku hilang,

Tubuhku terhimpit tembok dunia yang menjulang,

Mentari terhalang raksasa yang lalu lalang,

Dalam gelap ku menanti,

Seberkas sinar menyinari diri,

Saat sayapku tumbuh kembali,

Berkelana di langit,

Terbang bersama merpati,

Menari diatas pelangi,

Mencandai Bidadari,

Dalam gelap ku mendengar janji,

Tuhan takkan buat ku lama menanti..

Bobby

Sering liat dong film yang menceritakan detik-detik menjelang sebuah moment penting yang menjadi sejarah. Di film-film tersebut biasanya si Tokoh yang akan menciptakan sejarah atau menjadi bagian dari sejarah itu sendiri biasanya dijadikan focus dalam film tersebut, tapi tidak dalam Bobby.

Hari-hari terakhir sang senator yang akhirnya tewas tertembak ini hanyalah latar belakang kehidupan beberapa orang yang kebetulan bekerja dan tinggal di Hotel tempat terjadinya penembakan tersebut. Bobby; Robert F Kennedy ditampilkan dalam bentuk vintage cuplikan-cuplikan documenter original saat ia berkampanye, menjelang penembakan dan pasca penembakan.

Bermacam karakter orang-orang yang bersinggungan dengan Bobby secara tidak langsung dimunculkan dengan apik dan natural. Ada pasangan muda yang menikah agar si pria tidak dikirim Wajib Militer ke Vietnam, penyanyi alkoholis yang mulai pudar pamornya, waiter latin yang merasa selalu didiskriminasi secara rasial dalam kehidupan mereka sehari-hari juga beberapa karakter yang memiliki masalah berbeda yang harus dihadapkan bahwa tokoh yang diharapkan bisa mengatasi masalah-masalah krusial Amerika pada saat itu harus tewas didepan mata mereka.

Bertabur bintang terkenal, mulai dari Anthony Hopkins, Martin Sheen, Helen Hunt, Sharon Stone hingga artis muda seperti Lindsay Lohan dan Shia LeBouf film ini tetap tak kehilangan bobot . Mereka tak berusaha kelihatan menonjol atau sengaja ditonjolkan, sang sutradara tahu membuat mereka terlihat sebagai pelengkap terciptanya sebuah sejarah. Bobby adalah sebuah cerita sejarah tragis yang dibuat dari kacamata individual karakter disekelilingnya. Berat dengan packaging yang ringan.

Jangan lewatkan End Title nya, ada foto-foto Bobby bersama keluarga Kennedy diiringi sebuah lagu bagus; Never Gonna Break My Faith. Sangat menyentuh

Cerita Dari Dunia SMS: Sorry Dear, iPod Stands In Our Way

 

An SMS ring tone broke my morning silence that day. It’s from Tina a girl that I’ve been expected to see again after two months of nothing but SMS’ and chats.

 

TINA: Hi Andy! How are you? I’m back in Jakarta after holiday in Singapore. Wanna Meet?

 

ANDY: Hei babe! Thought you’ve erased me…Sure I’d love to. Friday?

 

TINA: Oh, how could I erase you, you are sooo my type…Miss you a lot. Can we meet sooner?

 

ANDY: Ahh…I miss you too dear. Sooner? Ok! Tomorrow around five. Where?

 

TINA: Plaza Indonesia, is it Ok for you?

 

ANDY: Ok. We’ll confirm again tomorrow. C u!

 

Oh…her message made my day. I like her, not only ‘coz she’s pretty but also sexy and so curious about being my girl friend. We talked a lot on our chats, about what we wanted from each other and about those three little words too…you know what I mean.

 

The next day I groomed myself well in the morning. I shaved my face but let my chin still a bit goatee. She likes stubble guy so I don’t want to look so plain. Pick a nice shirt and pour extra amount of perfume to it so the smell will last longer. Then I go to work as usual.

 

Around four she SMS me.

 

TINA: Are you already on your way dear?

 

ANDY: Not yet, will leave in half an hour. It’s not so far from here; I’ll be there in 20 minutes by busway.

 

TINA: What are you wearing today? Must be so sexy…

 

ANDY: You’ll see, I’m sure you’ll like it. Are you already on the way?

 

TINA: Not yet, I’m still preparing myself. C u there hunny!

 

So, while I wait for half past four. I played games on my PC. I was so excited. Almost four thirty an SMS arrived.

 

TINA: Dear, my dad asked me to teach him how to use Ipod. I can’t meet you today. Sorry.

 

What??? I got speechless. What a cute reason…

 

ANDY: Oh. Is Ipod so urgent for your father that will make him dead if you don’t teach him today?

 

My hands were shaking of anger while I wrote that SMS.

 

Not long a very simple irresponsible reply came.

 

TINA: Sorry. I just try to be a good daughter dear…

 

ANDY: Be my guest. It’s just the greatest reason (or excuse) that I’ve got so far for canceling a date on it’s last minute. If your father was a wise man he’ll know the importance of an appointment and won’t stand in your way.

 

Later I started to be unsure that her father is too shallow to be so demanding of teaching him to use Ipod at instance. Something’s wrong with that girl

 

She didn’t answer my last message. I didn’t know whether she agrees or feel guilty. I was so upset and angry but nothing I could say or do, then something crossed my mind; that beautiful and sexy girl is a freak and I don’t think I wanna see her again soon.

 

Based On A True Story

Cerita Dari Dunia SMS: Marni

Marni tak habis pikir kenapa Mas Kirtam pujaan hatinya itu beberapa hari ini tak pernah menelepon atau membalas SMS-SMS nya. Marni memang tahu kalau dirinya hanya sekedar simpanan pria limapuluh tahunan yang sudah beranak empat itu tapi selama beberapa bulan menjalin hubungan dengannya Mas Kirtam tak pernah tak membalas SMS-SMSnya. Walaupun kadang terlambat pasti tetap dibalas.

 

Pikiran-pikiran buruk mulai menghampiri Marni. Bayangan perempuan yang lebih muda dan bahenol  darinya terbayang di pelupuk mata Marni. Handphone disamping tempat tidurnya diambilnya segera.

 

MARNI: Mas kok SMSku gak di bls2 sih? Sibuk apa ‘sibuk’? Bls dong!

 

Lalu Marni menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Satu jam. Satu setengah jam.

 

MARNI: Jgn mo enak nya aja ya! Sdh dpt yg baru yg lama dibuang. Gw laporin nt ke istri lo!

 

Dua menit kemudian sebuah jawaban datang.

 

MAS KIRTAM: Maaf ini siapa ya? Anda cari siapa? Nama kamu gak tercantum di phonebook yang keluar hanya nomor kamu.

 

Marni naik pitam.

 

MARNI: Eh monyet! Mmg ada brp cewek simpenan lo? Ini gw marni!

 

Hampir lima menit tak ada balasan. Lalu Handphone itu berdering.

 

Dari Mas Kirtam.

 

MARNI: “Mas Kirtam kemana aja sih? Kok SMS-SMS Marni gak dibalas?”

 

MAS KIRTAM:

 

MARNI: “Mas…kok diem aja sih? Mas marah ya sama SMS Marni yang terakhir?Maaf deh! Mas Kirtam bikin kesel sih!”

 

MAS KIRTAM:

 

MARNI: “Maafin Marni ya Mas! Marni masih sayang kok sama Mas Kirtam!”

 

MAS KIRTAM:

 

Marni mulai kesal lagi.

 

MARNI: “Ya udah deh, bikin BT! Klo udah gak marah SMS Marni ya!”

 

Marni pun menutup teleponnya masih dengan perasaan kesal.

 

Tiga menit kemudian nada SMS terdengar dari HP Marni. Dari Mas Kirtam.

Marni dengan excited membuka pesannya.

 

MAS KIRTAM: Mas Kirtam meninggal dua hr yg lalu. Bus yg dibwnya bertabrakan dgn truk di pemalang. Aku istrinya yg td meneleponmu. Maafkan dia kalau ada salah kpdmu.

 

Marni lemas. HPnya terjatuh dari pegangannya.

 

Sebuah Cerita Ramadhan; Wawan & Bang Salim

Wawan baru saja memejamkan matanya ketika didengarnya suara seorang wanita mengucap salam sambil mengetuk-ngetuk pintu pagarnya.

"Sial! Siapa sih siang-siang begini ganggu orang tidur?" Umpatnya dalam hati.

"Waalaikumsalam" Jawab Wawan sambil membuka pintu rumahnya.

Seorang wanita bertubuh agak gemuk berdiri didepan pagar membawa sebuah kantong plastik hitam.

"Maaf ‘dik kakaknya ada?" Tanya Ibu itu saat Wawan membuka pagar.

"Gak ada ‘bu. Dia lagi gak datang, ‘kan rumahnya bukan disini tapi didaerah kota" Jawab wawan.

"Saya ‘ngantar jahitan celana suami kakak kamu yang di vermak suami saya" Kata Ibu itu lagi.

"Oh, saya terima aja dulu, nanti saya sampaikan ke dia" Jawab Wawan.

Ibu itu memberikan kantong plastik itu ke Wawan. Sambil berkata," Ongkosnya duapuluh ribu"

"Ya sudah, nanti saya bilang juga ke kakak saya kalau dia datang" Kata Wawan.

"Iya deh" Kata ibu itu lagi "Tolong sampaikan ya ‘dik"

"Iya ‘bu. Makasih ya!" Jawab Wawan.

Masuk rumah Wawan langsung melempar kantong plastik itu ke sofa lalu kembali masuk ke kamar tidurnya meneruskan tidur siangnya di hari minggu pertama di bulan Ramadhan itu.

Keesokan pagi Ibu itu kembali datang sesaat sebelum Wawan berangkat kerja menagih uang duapuluh ribu yang jadi haknya.

"Kakak saya belum datang ‘bu" Ucap Wawan "Kalau sudah datang pasti saya sampaikan"

Ada rasa kecewa dimata perempuan gemuk itu. Juga sedikit kesal saat ia berkata:

"Gak bisa ditalangin dulu ya ‘dik? Cuma duapuluh ribu kok"

Wawan pun menjawab agak keras: "Nanti klo orangnya datang pasti di antar ‘bu Gak usah kuatir!"

"Ya sudahlah!" Ibu gemuk itu pergi sambil menatap wawan dengan pandangan nyinyir.

Sebenarnya Wawan bisa saja membayarkannya dulu menggunakan uangnya tapi entah kenapa ia merasa malas melakukannya. Gak penting.

Tepat seminggu setelah pertama kali kedatangan perempuan gemuk itu kakak Wawan datang. Saat pulang ia memberikan Wawan uang duapuluh ribu untuk diberikan kepada si tukang jahit.

"Dimana sih rumahnya?" Tanya Wawan

"Dijalan kecil seberang Puskesmas masuk terus lalu belok kiri." Jawab kakak Wawan "Tanya orang saja yang mana rumahnya Bang Salim, pasti di tunjuki"

Sore itu Wawan ke sana. Tak terlalu susah mencarinya, tapi gangnya ternyata lebih sempit dari yang Wawan bayangkan.

Didepan rumah Ibu gemuk itu sedang duduk .

"Assalamualaikum!" Ucap Wawan

"Waalaikumsalam!" Jawab si Ibu " Eh, ada apa ‘dik?"

"Ini ‘bu. Saya ‘ngantar ongkos jahit yang waktu itu" Jawab Wawan " Maaf telat"

"Sebentar ya, mari masuk!" Ibu itu lalu bergegas ke dalam.

Wawan hanya berdiri didepan pintu. Ruang tamu rumah yang berukuran sedang itu juga tempat Bang Salim melakukan profesinya. Di sebuah meja tergeletak peralatan standar seorang penjahit; meteran, kapur penanda, gunting dan penggaris pola. Beberapa jenis bahan juga bertumpuk disana. Disebelahnya lagi ada sebuah mesin jahit yang sepertinya biasa dipakai Bang Salim bekerja.

Ibu itu lalu kembali. Ia mendorong seorang pria kurus yang duduk dikursi roda. Dari wajah dan tubuhnya terlihat ia sedang sakit.

Itulah Bang Salim si tukang jahit.

"Eh, Wawan" Ucap Bang Salim saat melihatnya sambil tersenyum.

Wawan tak tahu kalau Bang salim kenal padanya.

Wawan pun masuk lalu menyerahkan selembar uang duapuluh ribu titipan kakaknya. Ada rasa bersalah ketika Bang Salim sedikit menampik pemberiannya itu tapi Wawan bersikeras. Alhamdulilah Bang Salim mau menerimanya.

"Maaf ya Bang baru sempat dikasih hari ini" Ucap Wawan "Kakak saya sedang sibuk dirumahnya sendiri jadi baru bisa datang tadi"

"Gak apa-apa ‘wan. Sebenarnya abang sudah ikhlaskan kok" Ucapan Bang Salim itu menampar Wawan. "Waktu itu abang lagi perlu untuk tambahan berobat"

"Sekali lagi maaf ya Bang" Ucap Wawan malu lalu bergegas pergi.

"Pulang dulu Bang. Assalamualaikum!" Ucap Wawan

"Waalaikumsalam!" Balas Bang Salim " Kirim salam buat kakakmu ya!"

"Insya Allah Bang!" Jawab Wawan lagi sambil berlalu.

Lega, yang Wawan rasakan setelah memberikan titipan kakaknya itu namun rasa bersalah tetap ada karena tidak mau menalanginya dahulu saat pertama kali Ibu itu datang setelah melihat kondisi bang Salim.

Dua minggu kemudian Idul Fitri tiba. Seusai Lebaran Wawan ingat punya beberapa celana yang dibelinya di Department Store yang belum sempat divermak karena kepanjangan sementara tukang jahit langganannya masih belum kembali dari mudik. Ia pun teringat kepada Bang Salim.

Siang itu ia mendatangi rumah Bang Salim membawa dua potong celana untuk dikurangi panjangnya.

"Assalamualaikum!" Ucap Wawan.

Agak lama ia menunggu. Meja kerja Bang Salim terlihat lebih rapi dibanding saat ia datang waktu Ramadhan.

Setelah salam ketiga baru ia mendapat jawaban.

"Waalaikumsalam!" Suara Istri Bang Salim membalas salamnya.

"Bang Salim ada ‘bu?" Tanya Wawan "Saya mau vermak celana"

Raut wajah perempuan itu seketika berubah, kesedihan terlihat dimatanya.

"Bang Salimnya sudah meninggal…" Ucapnya tersendat "Ia meninggal seminggu sebelum lebaran ‘dik"

Wawan seperti tersambar petir. Kakinya terasa lemas.

"Innalilahi!" Ucap Wawan "Maaf ya ‘bu saya gak tahu"

"Gak papa ‘dik" Jawab Ibu itu masih dengan sedikit terbata, mata Ibu itu berkaca-kaca.

"Penyakit livernya tambah parah dan gak tertolong" Tambahnya.

"Sekali lagi maaf ya ‘bu!" Ucap Wawan tak tega sambil bergegas pergi.

"Maaf juga ya!" Balas si Ibu " Kalau bapak masih ada pasti dikerjakan"

Wawan tersenyum kecut.

"Assalamualaikum!" Ucapnya sambil berlalu.

Gang sempit itu terasa bertambah sempit saat dilalui Wawan. Dadanya terasa sesak ada sedih yang mendesak diruang dadanya. Seharian kejadian itu ada dipikirannya juga semua kejadian yang terjadi di Ramadhan yang baru berlalu. Rasa sesal kembali muncul karena terlambat memberikan hak Bang Salim tapi Ia juga sedikit bersyukur karena masih sempat memberikannya.

Waktupun berlalu. Tahun berganti tapi kejadian dengan Bang Salim tetap terpatri dibenak Wawan.

Berdasarkan Kisah Nyata

Cerita Dari Bangku Sekolah

Kisah ini terjadi saat aku berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMP kelas tiga. Awalnya aku belum tahu nama gadis itu. Siswi berwajah manis berkulit putih berambut coklat kemerahan, bermata besar yang juga berwarna coklat di kelas 3-5. Yang aku tahu julukannya adalah Stephanie tokoh Opera Sabun Australia Return To Eden yang sangat populer saat itu dan dia memang mirip dengan tokoh yang di perankan Rebecca Gilling tersebut.

Arah pulang kami pun searah kita sama-sama naik bus jurusan Tanah Abang yang lewat halte depan gedung DPR/MPR saat itu. Diam-diam aku sering mencuri pandang mengagumi wajahnya. Tubuhnya cukup tinggi, diatas rata-rata siswi-siswi yang lain. Dia sepertinya gadis yang sopan, dia selalu memakai rok lebar yang panjangnya melewati lutut. Yang juga kuperhatikan juga adalah sifatnya yang terlihat pemalu dan tidak banyak omong dibandingkan gadis-gadis lain disekolah yang sok cantik dan bermulut besar. She was my favorite girl.

Sejak kelas satu aku sudah sering melihatnya tapi entah kenapa baru dikelas tiga sosok gadis itu baru mencuri perhatianku. Bahkan dikelas tiga pun tak pernah aku berusaha mencari tahu siapa namanya karena aku juga termasuk cowok pemalu lagi pula julukan kami anak SMP waktu itu yang masih ‘setengah tiang’ karena masih memakai celana pendek membuatku ragu untuk memulai sebuah cinta monyet. Yang pasti aku sering memperhatikannya dari jauh. Aku suka padanya.

Hingga di suatu hari Sabtu dibulan Februari sesaat sebelum tiba disekolah beberapa siswa bercerita tentang seorang siswi kelas tiga yang tewas tertabrak mobil kemarin. Mereka membicarakan gadis idamanku. Aku terkejut, hatiku berdebar kencang dan berharap mereka salah.

Sesampainya di sekolah kulihat beberapa siswa mengerubungi papan pengumuman di depan ruang guru yang memberitahukan kematian siswi tersebut. Akupun penasaran untuk melihatnya.

Ada sebuah pas foto seorang gadis terpampang disana beserta pemberitahuan kematiannya. Foto gadis yang aku suka, gadis manis pendiam yang sebelumnya tak kuketahui namanya. Mardiah, nama gadis idamanku itu. Banyak yang bercerita jenazahnya terlihat tersenyum. Ia dimakamkan hari itu juga.

Stephanie telah pergi Tak ada teman yang tahu kekagumanku padanya. Gadis manis itu tak kan pernah lagi bisa kulihat tawanya atau merah pipinya saat tersipu malu. Tak banyak yang bisa kulakukan selain berdoa untuknya. Sabtu sore diawal Februari itu hujan turun dengan lebat, seakan langit turut berduka.

Berdasarkan Kisah Nyata